“Mau sampe kapan lu autis ama King Tweezer di markas Luth? Level lu udah 36 udah saatnya hunt di luar!”
“Gw nggak PD Pal, kalo lihat kaleng salah-salah gw malah lari ke arah kalengnya!”
“Makanya hari ini gw seret elo ke Haram, lu bilang aja mau animus yang mana. Mau 4 juga gw beliin!” balas Paladinz sewot
“Gw nggak mau kalo elu beliin!!!! Gw maunya nabung beli pake usaha sendiri!”
“Sampe kapan juga lu ga bakal bisa beli kalo cuma farm di markas!!!!”
Namun belum sempat Luthien membalas, tiba-tiba aja dua Coro itu udah dikejutkan dengan keributan di luar Istana Haram. Dari platform lelang mereka bisa melihat ratusan kaleng Accretia sedang membantai Cora level ucup yang sedang berburu di pinggiran Bukit Chilly.
“Accretian raid!!!!! Semua Cora dengan level dibawah 40 segera kembali ke Haram!!!” Suara King Archon terdengar bergema keras di chat Race.
Namun Paladinz justru menyiapkan buff nya dan bersiap keluar dari dinding Haram.
“SWT!!! Lu gak denger kata King Arcon barusan?

Lu mau setor nyawa???” Luthien segera menarik lengan Paladinz, mencoba mencegah agar temannya itu agar nggak keluar.
“BERISIK!!!!” bentak Paladinz “Gw punya impian Luth, gw ingin dikenal sebagai Cora yang kuat, bukan jadi pengecut kayak elu!!!! Dan gw nggak takut ngewujudin impian gw walau nyawa taruhannya!!!!”
Luthien terlihat sangat kaget dibentak seperti itu oleh Paladinz, namun pemuda itu udah nggak mempedulikannya. Ia segera berlari keluar pintu haram dan bergabung dengan tim repel.
Bukit Chilly sudah berubah jadi medan perang, suara pedang yang beradu dan desingan peluru terdengar dari segala penjuru. King Archon bersama beberapa petinggi Cora tampak berada di barisan terdepan, mengkomando pasukannya untuk mendorong prajurit Accretia balik ke arah portal Crag Mine.
Paladinz bergantian memainkan Isis dan Hecate nya, dia menggunakan kedua Animus itu untuk menyerang para Accre yang levelnya jauh diatas dirinya itu dari jarak aman. Beberapa kali Paladinz berhasil mendapatkan last hit, pemuda ini pun tersenyum puas melihat point CPt nya bertambah terus.
Tak lama ia pun merasa over confident dan pelan-pelan terpisah dari pasukan Cora level tinggi yang terus mendorong pasukan Accre ke arah portal CM.
Dengan penuh percaya diri ia menyusuri Bukit Chilly sendirian, benar juga dugaannya ada beberapa Accretia yang masih tersisa di sana. Digunakannya Animus nya untuk memanen CPt para Accre malang itu seorang diri.
Hahahaha, emang kill sendiri rasanya lebih lega dibandingkan cuma hoki LH. Pikir Paladinz sambil tersenyum puas.
Paladinz melanjutkan patrolinya ketika dilihatnya sekaleng striker Accretia sedang berdiri membelakangi dirinya, Tapi ada yang berbeda pada Striker ini... diatas kepalanya terdapat aura yang bersinar, aura Wakil Archon!!!!!
Terbayang kebanggan dan point CPt yang akan didapatnya bila ia berhasil menghabisi petinggi Accre ini, ia akan dikenal oleh seluruh Cora sebagai pembantai Warchon Accretia!!!! Tanpa memikirkan resikonya Paladinz segera memerintahkan Isis emasnya untuk menyerang!!!!
Diluar dugaan Paladinz, striker itu mampu menghindari sabetan Isis emasnya dengan sukses, bahkan mengarahkan launchernya tepat ke arah gold Isisnya. Dalam sekali serangan Compound Striker itu sudah menghabisi setengah HP Isis milik Paladinz!!!
Paladinz sendiri beruntung ia mengambil jarak terjauh dari animusnya sehingga nggak terkena serangan area itu, kalau terkena tadi ia pasti udah mampus sekarang! Dengan kesal Paladinz terus memerintahkan Isisnya untuk menghajar kaleng itu, namun dengan tenang striker itu menerima serangan-serangan Isis tersebut sambil menggunakan launchernya untuk menghajar Isis emas itu!!!
Perbandingan damage yang mencolok pun terlihat, Isis milik Paladinz walaupun level 50 tidak bisa terlalu banyak melukai sekaleng striker di hadapannya. Sementara striker itu dalam sekejap sudah menipiskan HP si Isis! Paladinz mau nggak mau menyimpan Isisnya sebelom dibikin goler ama Striker itu!
Dengan tidak adanya Isis yang mengganggu, kini sekaleng striker itu mengincar Summonernya, yaitu Paladinz!!! Dengan cepat pemuda itu berganti senjata injurer untuk mengambil jarak jauh-jauh dari Striker itu sebelum delay summon nya habis, dia masih punya Hecate level 50!
Namun striker itu rupanya tidak kalah cepat, ia juga segera berganti armor ranger dan mengejar Paladinz sambil menembakkan panah dari SI BGB nya!!! Berkali-kali panah itu hampir mengenai Paladinz kalau saja Coro itu nggak berlari secepat kilat.
Saat itulah delay summon Paladinz habis, dengan segera ia mensummon Hecatenya dan memerintahkannya untuk menyerang kaleng yang mengejarnya itu!
“Makan tuh stun!!!” teriak Paladinz puas melihat pengejarnya kini kewalahan mengatasi stun-stun dari Hecatenya.
Namun belom sempat HP striker itu turun setengah, ia sudah siege mode dan DOOMBLAST!!!!!!!!!!!!!
Tanpa ampun dihancurkannya Animus milik Paladinz, sampe pemuda itu melongo. HP dan Def Hecate yang cukup tebel itu nggak mampu mengatasi damage mengerikan dari striker yang dilawannya itu.
Gak pake nunggu lama, Paladinz segera ambil langkah 1000 untuk kembali ke jarak lindungan tower Haram!! Namun striker itu lebih cepat, ia segera mencopot siege mode nya dan kembali mengejar Paladinz.
Tower Istana Haram masih belum terlihat ketika Paladinz merasakan sebuah anak panah menembus kaki kirinya dengan telak!!!
“UWAAAAAGGGHH!!!” jeritnya kesakitan.
Pemuda itu pun terjatuh di atas tanah Bukit Chilly dan segera mensumon Inanna nya untuk menyembuhkan diri, namun belum sempat Inanna itu berbuat apa-apa serangan Dread Fire telah menyambar tubuh animus malang itu dan menghancurkannya!!!
Hanya sekitar 3 meter di belakangnya Striker itu kini sudah berada begitu dekat dengan Paladinz dan mengarahkan moncong launchernya ke arah Paladinz. Saat itulah Paladinz melihat name tag Striker tersebut dan menyadari siapa Striker di hadapannya ini.
Yang sejak tadi dilawannya ternyata adalah Striker Legendaris Accretia! Perusuh nomer satu di Sette, kaleng pembunuh Coro dengan CPt tertinggi di seluruh Empire, Aizenvalt!!!
Hanjredddd, pikir Paladinz.... Dari tadi yg gw lawan dia toh.... Pantes alot bener!!!!
Setan!!!! Ah ya sudahlah... setidaknya gw mati di tangan striker legendaris pikir Paladinz pasrah.
Saat Aizenvalt sudah mencapai jarak serang dengan Paladinz, pemuda itu pun menantangnya untuk segera membereskan dirinya.
“Ayo kill me, gw ga takut mati, toh gw akan mati sebagai pahlawan!!”
Aizen memandangi coro menyedihkan yang tergolek di depan matanya itu, mata kameranya bergerak sebelum ia berkata “Setelah dipikir-pikir ammo launcher gw ini barang mahal, kebagusan kalo cuma buat bunuh pecundang macam elo!!!”
Setelah mengatakan itu Aizen malah ngeloyor pergi....
Tentu aja Paladinz berteriak-teriak marah diperlakukan kayak gitu
“WOYYY APA MAKSUD ELU NGATAIN GW PECUNDANG???!!! KILL ME KALENG *Censored!!!!”
“Gw kill elu, cuma ngotorin armor gw dengan darah sampah elo!” jawab Aizenvalt tanpa menoleh
“MAU GW PECUNDANG LAH, SAMPAH LAH, APA SIH PEDULI ELO!!! KILL AJA GW CEPET!!!”
“Kalo gw nge kill elo nama baik gw bisa rusak!!! Reputasi gw bisa tercoreng!!! Sampah cupu gak berskill kayak elo, hanya sembunyi dibalik animus sudah ngerasa jadi pahlawan pula!!!”
“Apa peduli elo!!?

Toh gw bisa kill kaleng dan cebol sebanyak mungkin itu bukti kalo gw kuat!!!”
Aizenvalt menghentikan langkahnya dan memandang Paladinz dengan kasihan....
“Hanya karena bisa kill banyak kaleng dan cebol elu udah merasa diri lu kuat??? HAHAHAHAHA!!” kaleng itu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang menyeramkan
“Lu itu Warrior Summoner, mainin itu skill dekat elo, de-buff elo!!! Bisanya cuma nyuruh animusnya maju sementara lu nya sendiri ngumpet kek pengecut, masa gw yang kaleng ini lebih tau cara maenin job elu daripada elu sendiri!!!?

LU YANG KAYAK GITU UDAH NGERASA KUAT?

??”
Paladinz tidak bisa membalas ucapan Aizenvalt itu, lidahnya kelu... Jauh dalam lubuk hati kecilnya dia menyadari.... Menyadari kebenaran menyakitkan yang tersimpan di balik setiap kalimat kaleng itu.
Ia menjatuhkan kepalanya dengan lemas di tanah Bukit Chilly sambil melihat keatas langit... Langit senja haram yang ditaburi oleh bintang, saat itulah ia teringat kembali dengan ucapannya.........
“Suatu hari nanti gw juga ingin seperti mereka, bahkan gw ingin bersinar lebih terang, paling terang diantara mereka semua!”Gw.... apa yang udah gw lakukan... gw tidak akan menjadi apapun kalo gw terus menipu diri seperti ini... Selama ini gw bukan mengejar mimpi gw, malah semakin jauh dari impian gw!!!! Luthien sudah berusaha memberitahu gw, tapi gw terlalu sombong untuk mendengarnya...
Aizen udah berjalan menjauh ketika Paladinz tiba-tiba berteriak keras-keras,
“WOOOOOOOOOYYYY KALENG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Aizen menghentikan langkahnya tanpa berpaling,
“Nama lo Aizenvalt kan!!!!! Inget inget ini, nama gw Paladinz!!! Suatu hari nanti gw akan jadi Warrior Summoner yang kuat!!!!! Lalu akan gw habisin badan kaleng elo itu!!!! lu akan nyesel udah biarin gw idup!!!!”
“Gw tunggu hari itu tiba, cora cupu!! Saat itu dengan bangga gw akan ambil nyawa elo!!!” jawab Aizen sambil meneruskan langkahnya.
Paladin memejamkan mata dan mati-matian menahan dirinya agar tidak menangis terisak-isak... Ia telah mendapatkan tamparan terkeras dalam hidupnya hari ini... dan itu didapatkannya justru dari sekaleng Accretia, bangsa yg dibencinya ½ mampus!!!
Perlahan-lahan ia membuka matanya lagi, saat itulah ia melihat diatas langit yang semakin menggelap, ribuan bintang bersinar begitu terang. Persis seperti pemandangan yang dilihatnya di Daratan Gelap....
My dreams are endless and crazy.... Incredibly bright, like that star!!!
Suatu hari nanti pasti.... Walau seberat apapun gw akan berusaha, untuk menjadi kuat dalam arti yang sesungguhnya!!!!
Tidak lama kemudian Paladinz ditemukan oleh tim repel dan segera di bawa ke Istana Haram, disana ia segera digamparin oleh Luthien yg cemas ½ mati
“GOBLOKKKKKKKKKK!!!!!!!! SOTOYYYYYYYYY!!! SOK KUAT LUHHH” bentak Luthien sampe semua Coro di Haram ngeri ngedengernya.
Paladinz cuma tersenyum lemah sambil menjawab “Iya gw emang *Censored selama ini...”
Luthien kaget ngeliat respon Paladinz itu “Tumben lu diem aja gak ngebantah...”
“Iya karena barusan ada seseorang...Well mungkin dia bukan orang, tapi dia udah nyadarin gw arti kekuatan yang sesungguhnya itu apa.... Dia ngingetin gw ke impian gw yang sesungguhnya.... Yang gw lakuin selama ini hanyalah membohongi diri gw sendiri... gw masih jauh dari kuat Luth, gw masih harus banyak berlatih lagi...”
Luthien gak bisa nahan air matanya saat mendengar jawaban itu, ia segera memeluk Paladinz erat-erat “Gw ga butuh lu jadi kuat!!! Lu adalah temen gw sodara gw satu-satu nya sejak kita kecil, yang gw butuh cuma elu ada d sisi gw!!!”
Dengan lembut Paladinz balas mengelus punggung Luthien “Thanks Luth, tapi agar gw bisa selalu ada di sisi elu gw harus kuat! Gw nggak boleh jadi coro lemah yang gampang mati! Supaya lu gak perlu kehilangan gw selamanya!!”
Air mata Luthien semakin deras mengalir kayak kran bocor...
“Woyy kok tambah bocor???” tanya Paladinz setengah ketawa.
Luthien menghapus air matanya dan mati-matian berkata disela-sela tangisnya “Promise me Pal, lu ga akan ngelakuin hal bodoh kayak tadi!!”
“I promise, sis! Gw juga janji, gw ga akan biarin hal buruk terjadi pada elo, gw akan mencapai impian gw dan akan gw gunakan kekuatan gw untuk ngelindungi elu!”
Sambil berkata demikian Paladinz menunjukkan jari kelingkingnya pada Luthien. Luthien balas memberikan jari kelingkingnya. Mereka pun saling menautkan jari kelingking... meresmikan janji masa kecil mereka itu....
...............
........
....
Suara raungan mesin MAU membuyarkan Luthien dari lamunannya, nggak jauh di dekatnya ia melihat Avalon sedang memarkirkan mesin coklat itu dan meloncat turun dari kokpitnya.....
“Sorry Luth, dah lama nunggu ya?”
“Oh ga kok baru aja dateng...” jawab Luthien sambil tersenyum
“Barusan lu ngelamun?”
“Gak... cuma gw teringat sebuah janji yang pernah gw buat sama Pal dulu sekali ketika kita masih kecil”
“Oh ...” Avalon mengangkat sebelah alis matanya, penasaran “Janji apa?”
“R A H A S I A!” jawab Luthien dengan suara nakal.
“Azzzz sok misterius lu!!!!”
“Heheh biarin!” ujar Luthien sambil menjulurkan lidah.... Cewek itu kemudian tersenyum lembut lalu berkata “Yang jelas... sampai saat akhirnya dia menepati janji itu... “ Luthien berhenti sesaat kemudian sambil memandang lurus ke atas langit dia melanjutkan
“Dulu sekali dia pernah bilang sama gw ...
Setiap bintang yang ada di atas sana, semuanya bercahaya terang... Suatu hari nanti gw juga ingin seperti mereka, bahkan gw ingin bersinar lebih terang, paling terang diantara mereka semua!!! Sayangnya gw tidak pernah sempat memberitahu dia.... bagi gw dia adalah bintang yang bersinar paling terang di langit, karena dia temen gw yang gak akan pernah tergantikan... “ Mata Luthien mulai berkaca-kaca.
Avalon menggengam jemari Luthien lembut “ Luth...”
“Ya?” Luthien menoleh perlahan ke arah Avalon.
“Senyum dong...”
Mendengar hal itu air mata pun tak terbendung lagi menetes di kedua belah pipi Luthien, Avalon menepuk punggung Luthien lembut.
“Ayo” ajaknya
Luthien mengusap air mata dengan punggung tangannya, merekapun bergandengan tangan menyusuri Pan Crimson menuju ke gua tempat nisan Paladinz berada.
The EndWhen I look up at the sky
The stars, see, are sparkling
Each giving off its own light
Like the people on this planet
Yeah, so I, too
Want to shine particularly bright
I close my eyes and make a vow in my heart
And entrust my dreams to that shooting star
Lyrics for
Nagareboshi ~Shooting Star~ from
Naruto: Shippuuden by
Home Made Kazoku (Ending #1)