Ligagame CSO

Main Menu
Hotk
Sudden attack indonesia
Qeon Shadow company
Garena Heroes of Newerth
Teracord Chaos

Banner

Banner

Ligaponsel
May 24, 2012, 01:07:30 PM
Sorry Guest, you are banned from posting or sending personal messages on this forum.
Pages: [1]   Go Down
Print
Author Topic: Mengenal Sidat dan Budidaya Sidat  (Read 7983 times)
0 Members and 3 Guests are viewing this topic.
brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« on: January 16, 2010, 08:04:27 PM »

Ikan Sidat atau Moa

Sidat atau Moa (ordo Anguilliformes) kelompok ikan berbentuk tubuh mirip ular. Ordo Anguilliformes terdiri atas 4 subordo, 19 famili, 110 genera, dan 400 spesies.  Kebanyakan hidup di laut namun ada pula yang hidup di air tawar.

Bentuk tubuh menyerupai ular, panjang dapat mencapai 50-125 cm, sirip punggung dan sirip dubur menyatu dengan sirip ekor, sisik sangat kecil yang terletak di dalam kulit, kepala lebih panjang dibandingkan jarak antara sirip punggung dengan anal. Sidat mempunyai sifat katadromus yaitu masa menjelang dewasa ikan sidat hidup di air tawar kemudian bermigrasi untuk bertelur atau berkembang biak di air laut. Ikan ini toleran terhadap salinitas, temperatur dan tekanan yang berbeda-beda.

Diluar negeri sidat ini banyak dikonsumsi sebagai makanan mewah, karena kandungan proteinnya yang tinggi. Masyarakat jepang banyak yang menkonsumsinya, jika di jepang disebut unagi. Selama ini bibit sidat hanya bisa diperoleh dari alam, karena sistem pemijahannya yang unik seperti ikan salmon. Dia akan berkembang biak di laut, bertelor dan menetas, setelah menginjak menetasfase “glass ell” masih berada dilaut dan mampu berenang mencari air tawar, sampai dewasa untuk siap memijah lagi.


Glass eels (anakan/bibit sidat)


Sidat atau Moa (remaja)


Sidat atau Moa dewasa (elver)  siap konsumsi

Untuk memeliharanya tidaklah sulit, tinggal sediakan kolam, seperti kolam ikan biasa, sebenarnya hampir mirip lobster bagi yang sudah pernah liat, kita tinggal menambahkan paralon atau apa sajayang bisa digunakan untuk sembunyi. Karena ikan ini selama hidupnya menyukai tempat gelap.
Makanan sebenarnya sidat termasuk ikan Carnivora, pemakan daging,  cacing, cacahan keong, cacahan bekicot,  pelet, kalau ini butuh adaptasi lama, dan sidat lebih suka makan makan didasar kolam, bukan terapung.

source : http://sidatmoa.wordpress.com
Logged
brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #1 on: January 16, 2010, 08:05:56 PM »

Budi Daya Ikan Sidat Peluang Ekspor yang Sangat Menggiurkan

Jakarta – Ikan sidat (Anguilla sp) mungkin tidak dikenal oleh banyak orang di sini. Tapi, di berbagai negara ikan sidat jadi makanan primadona yang harganya sangat mahal.

Ikan sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing menganggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi.

Kandungan vitamin A mencapai 4.700 IU/100 gram, sedangkan hati ikan sidat lebih tinggi lagi, yaitu15.000 IU/100 gram. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram.
Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram.

Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram.
Teknologi budi daya masih baru di Indonesia. Budi daya ikan sidat di Indonesia baru ditemukan sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Padahal ikan sidat sudah cukup lama dibudidayakan di Jepang dan Thailand. Asal tahu saja, pengembangan budi daya kedua negara menggunakan benih dari Indonesia.

“Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat,” kata Kepala Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang Made Suitha.
Sidat kini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat besar. Ekspor ikan sidat terutama ke Macau, Taiwan, Jepang, China dan Hongkong. Potensi pasar negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda dan Amerika Serikat.
Peluang ekspor dari Indonesia kian terbuka lebar. Produksi ikan sidat dari Jepang dan Taiwan mulai terbatas karena kekurangan bahan. Kedua negara otomatis mengurangi ekspor, sedangkan produksi ikan sidat dari China diketahui menggunakan zat kimia.
Negara produsen ikan sidat akhirnya mencari alternatif pasar benih, termasuk dari Indonesia. “Tapi Indonesia tidak akan menjual benih, lebih baik dikembangkan di sini sehingga investor dari luar juga datang,” tegas Made.

Harga ikan memang sangat menggiurkan. Harga di tingkat petani ikan sidat untuk elver dengan harga jual antara Rp. 250.000/kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp 20.000-Rp 40.000/kg, sedangkan ukuran konsumsi >500 gram untuk jenis Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp 75.000/kg; jenis Anguilla marmorata Rp 125.000-Rp 175.000/kg.

Bantuan Teknologi
Pengembangan budi daya ikan sidat di Pandu Karawang sangat berhasil. Made mengungkapkan bahwa harga ikan yang cukup tinggi menarik masyarakat untuk membudidayakan ikan sidat. Bahkan Pandu Karawang siap memberikan bantuan dalam bentuk teknologi budi daya bagi masyarakat yang ingin berwirausaha. Saat ini, beberapa kelompok masyarakat melakukan pembudidayaan ikan sidat di tambak Pandu Karawang, namun juga ada yang perorangan.

“Kami menyediakan lahan yang bisa disewa maksimal dua tahun. Setelah itu mereka harus mandiri, untuk memberi kesempatan pada masyarakat lain yang ingin belajar budi daya ikan sidat,” jelas Made.
Budi daya ikan sidat relatif tidak sulit. Apalagi rasio hidup sangat tinggi, sekitar 90 persen, karena punya data tahan kuat terhadap penyakit.

Made mengemukakan, lamanya budi daya ikan sidat tergantung ukuran benih. Dia mengatakan, paling banyak yang dibudidayakan adalah ukuran 200 gram untuk menghasilkan panen ukuran > 500 gram. Lama budi daya maksimal lima bulan.
Tingkat produktivitasnya juga cukup bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan bisa menghasilkan 5 ton ikan sidat. Sekarang, semakin banyak investor yang berkeinginan membudidayakan ikan sidat, sebab, budi daya ikan sidat dipastikan menguntungkan. Tertarik?

Oleh
Naomi Siagian
source : http://sidatmoa.wordpress.com
Logged
brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #2 on: January 16, 2010, 08:08:40 PM »

Usaha Budidaya Sidat (Anguilla spp.)

Tidak seperti halnya ikan mas, ikan patin, udang windu, ikan lele dan lobster air tawar, pengembangan usaha budidaya sidat di Indonesia masih sulit dilaksanakan, apalagi penyediaan benih ikan ini betul-betul tergantung alam.  Pemeliharaan benih sidat di kolam-kolam belum popular, karena ikan ini karnivor dan kanibal.

            Benih yang didapat dari alam ditampung dan diberi makan cacing halus.  Umumnya, hasil budidaya sidat ini diekspor.  Tujuan ekspor benih sidat ke luar negeri, terutama Jepang, negeri yang perikanan sidatnya sudah sangat maju tetapi sangat membutuhkan benih cukup banyak.  Untuk menambah pengetahuan dan alih teknologi, berikut diterangkan budidaya sidat yang dilakukan di Jepang.

    * PENYEDIAAN PAKAN

Sebelum mengumpulkan benih sidat, persediaan pakan harus disiapkan terlebih dahulu.  Sebelum pakan buatan ditemukan, ikan rucah digunakan sebagai pakan sidat.

            Pakan buatan yang tersedia adalah dalam bentuk tepung.  Untuk ransum makanan, pakan buatan dicampur air dengan rasio 1 : 1.  kadang-kadang, dapat juga ditambah obat-obatan dan cacahan ikan runcah.  Campuran pakan ini diaduk sehingga berbentuk adonan dan segera diberikan kepada sidat sebelum menjadi keras.

            Kandungan protein yang dibutuhkan dalam pakan elver, sidat muda dan dewasa berturut-turut adalah 55,50 dan 45%.  Sedangkan kandungan lemak dalam ransum makanan pada umumnya 3%.  Ransum makanan yang diberikan sebanyak 2-6% berat total tubuh  sampai ikan tumbuh menjadi 40g, kemudian ransum makan yang diberikan hanya 1-3% berat total tubuh.

            Peternak harus mengamati aktivitas makan sidat dengan cermat dan mengatur ransum makanan sehingga sidat dapat mengkonsumsi semua pakan dalam satu jam atau lebih baik lagi dalam waktu 30 menit.  Pakan buatan haru disimpan di tempat dingin dan kering, dalam cold strorage (ruang pendingin), dan pakan yang baru harus dibeli setiap satu atau dua minggu dari pabriknya.

    * PENGUMPULAN BENIH SIDAT

Elverdikumpulkan dari daerah muara sungai ketika mereka mulai beruaya ke arah sungai, yaitu saat akhir musim gugur sampai musim dingin di Jepang.  Nelayan mengumpulkan elver dengan seser atau jarring penangkap serta menggunakan lampu untuk menarik perhatiannya.  Ukuran mata jaring alat tangkap tersebut adalah 0,7-1,0 mm.  Elver yang terkumpul kadang disimpan dalam kandang elver, yaitu kotak kayu yang mempunyai saringan di dasarnya.  Ketika elver mencapai kepadatan tertentu, mereka dipindahkan ke bak-bak pemeliharaan.  Elver harus ditangani dengan hati-hati untuk mencegah kematian karena luka-luka.  Ukuran elver adalah 0,15-0,2g berat tubuh dengan panjang total 50-60 cm.

    *   PEMELIHARAAN ELVER DAN SIDAT MUDA

Peternak sidat membeli elver dari pemasok.  Elver yang akan dibeli diperiksa dahulu untuk meyakinkan bahwa benih sidat tidak luka, berpenyakit, atau lemah.  Terkadang, elver direndam dalm larutan obat beberapa saat, guna mencegah pertumbuhan bakteri patogen, sebelum dimasukan ke bak pemeliharaan.

            Elver dipelihara di dalam bak berkapasitas 30-50m² dengan kedalaman 50-70 cm.  Bak-bak diletakkan di dalam ruangan.  Tiga atau empat hari pertama, anak sidat ini harus aklimatisasi sesuai kondisi bak-bak tanpa pemberian pakan.  Jika suhu air akan ditingkatkan sampai optimum (25-28ºC di Jepang), harus dilakukan bertahapselama aklimatisasi.  Perubahan mendadak menyebabkan tekanan fisiologik.

            Cacing tubificid (tubifisid) merupakan makanan terbaik bagi pemeliharaan awal elver.  Untuk beberapa hari, cacahan tubificiddiberikan disekeliling dinding bak, sehingga semua elver memperoleh kesempatan untuk memangsa ransum yang tersedia.  Setelah itu, area pemberian pakan dipersempit sampai pakan hanya diberikan sepanjang satu penampangdinding.  Dengan cara ini, anak sidat dilatih untuk makan di tempat dan waktu yang telah ditentukan.

            Dalam waktu dua sampai empat minggu, ransum makanan diberikan dua kali sehari, subuh dan petang hari, pada suatu tempat berpenarangan lampu 20-40 watt.  Waktu makan secara perlahan dialihkan ke siang hari.  Meski sidat telah terbiasa makan siang hari, pakan tetap diberikan dua atau tiga kali sehari selama dua sampai tiga bulan.

            Setelah dua atau tiga minggu dari awal pemberian pakan, cacahan daging ikan dan pakan buatan mulai dicampur dengan cacing tubificid.  Jumlah pakan buatan dalam pakan campuran tersebut ditingkatkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya hanya pakan buatan yang diberikan.

            Beberapa peternak tetap memberikan campuran cacahan ikan dan pakan buatan sampai sidat berbobot 1g.  Ketika sidat masih kecil, pasta makanan disediakan agak lunak.  Setelah sidat tumbuh lebih besar, diberikan pasta agak padat.

            Padat penebaran elver biasanya berkisar antara 150g/m² dan 300g/m².  Kelulushidupan elver sampai berat tubuh 1g adalah 80-90%.

    * PEMBESARAN

Setelah anak sidat dapat menerima ransum makanan yang terdiri dari pakan buatan saja, pemilahan sidat pertama kali dilakukan.  Semua sidat dari dalam bak dikumpulkan melalui pipa pengeluaran ke dalam keranjang dan dipindahkan ke jaring kurung kecil di bak lain.

            Sidat yang besar dipisahkan, yang lebih kecil dipindahkan ke bak-bak budidaya untuk pembesaran lebih lanjut.  Kemudian, pemilahan dilakukan setiap 40 hari.

            Pemilahan yang sering dilakukan memiliki beberapa manfaat, yaitu memungkinkan mengetahui persediaan sidat yang dibudidaya, meningkatkan efisiensi pakan dengan mengurangi kemungkinan pakan yang tersisa, memungkinkan pengamatan kondisi sidat secara cermat, dan dapat benar-benar membersihkan bak-bak budidaya.

            Adonan pakan buatan, kini, diberikan satu kali sehari sebanyak 1-3% berat total tubuh dalam bak budidaya.  Kepadatan ideal untuk sidat berbobot 10g adalah 3 sampai 6 kg/m² dan untuk sidat besar, 9-21kg/m².

            Sisa bahan organic yang tertimbun di pusat bak karena pergerakan air harus dibersihkan dengan cara disedot setiap pagi dan sore.  Pengelolaan air budidaya dilakukan dengan cermat sepanjang musim dingin untuk menjaga air tetap bersih dan hangat (dengan memanaskan air sampai suhu optimal), sementara pergantian air dilakukan sesedikit mungkin untuk efisiensi biaya pemanasan.

    * PANEN DAN PEMASARAN

Setelah lima bulan dibudidaya, sidat yang tumbuh cepat telah mencapai ukuran jual.  Sidat tersebut tetap dapat dipanen untuk dipasarkan.  Sidat yang dipanen diletakkan di  dalam keranjang plastik.  Keranjang ini diletakkan di dalam bak berisi air dengan sirkulasi.  Pakan tidak diberikan selama satu hari sebelum pengangkutan ke pasar.

            Untuk pengangkutan selama lima sampai 10 jam dapat digunakan keranjang plastik, yaitu 10 keranjang yang berisi 4-5kg sidat ditumpuk dan air dingin dipancurkan di atas tumpukan keranjang tersebut.  Satu keranjang berisi 1-2kg es batu kemudian diletakkan di atas tumpukkan tersebut.  Tumpukkan tadi kemudian dimuat ke atas truk dengan ditutup kain kanvas.

            Untuk jarak jauh, yang memerlukan waktu 20 sampai 30 jam, sidat dikemas dalam kantong plastik lapis dua berkapasitas 8 liter, diisi 1-2 liter air, 0,5-1kg es batu dan gas oksigen.  Satu kantong dapt diisi 5-10kg sidat.  Biasanya, dua kantong dikemas dalam satu kotak Styrofoam.

source : http://www.musida.web.id
Logged
Pages: [1]   Go Up
Print
Jump to:  



Â