D. Anatomi lampu kilat
keterangan :
*
Reflector Card : atau
bounce card. Digunakan dalam teknik
bounce flash untuk memberikan sedikit cahaya frontal sementara sebagian besar cahaya akan dipantulkan di langit-langit ruangan.
*
Fresnel lens : (baca: frey-nel) sekeping plastik (akrilik) bening dengan pola-pola sirkuler yang berguna untuk mengonsentrasikan (dan menyebarkan) kilatan dan melunakkan cahaya lampu kilat.
*
Tilt, swivel & zooming head : lampu kilat dengan kepala yang dapat digerakkan "menoleh" kiri-kanan (swivel) dan "mendongak" (tilt - sebagian merek mampu "menunduk" sedikit untuk pemotretan makro), digunakan untuk pemotretan dengan teknik
bounce flash. Bila unit ini mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan sudut sebaran cahaya lampu kilat dengan lensa yang dipakai (biasanya berkisar antara 28-85 mm), disebut juga dengan zooming head. Bila tidak, sudut sebaran lampu kilat biasanya disesuaikan dengan lensa 28, 35 atau 50 mm. Di bagian ini dapat ditemui
fresnel lens.
*
Lampu pembantu AF : lampu pembantu sensor AF pada kamera yang akan menyala secara otomatis dalam keadaan cahaya sekitar yang lemah.
*
Terminal PC contact & kabel TTL : menghubungkan lampu kilat dengan kamera menggunakan kabel sinkron manual (PC) atau kabel TTL bila lampu kilat digunakan terpisah dari kamera.
*
Terminal tenaga eksternal : "colokan" kabel sumber daya eksternal (battery pack).
*
Hotshoe : "sepatu panas" adalah tempat kontak-kontak listrik dari lampu kilat ke kamera. Berfungsi sekaligus sebagai dudukan lampu kilat.
*
Sensor thyristor : sensor pendeteksi kilatan. Digunakan dalam mode semi-auto (lihat jenis-jenis lampu kilat).
*
Tombol tilt & swivel : tombol yang terletak di samping
head ini (tidak terlihat dalam gambar) digunakan untuk mengarahkan
head ke bidang pantul (langit-langit atau tembok).
*
Wide angle panel : panel tambahan untuk lebih menyebarkan cahaya lampu kilat dalam penggunaan lensa sudut lebar (18-20mm).
*
Tombol preview : bila tombol ini ditekan, lampu kilat akan menyala selama beberapa detik untuk memberikan perkiraan hasil pemotretan (misalnya, di mana bayangan akan jatuh pada objek).
*
Indikator sudut tilt : mengindikasikan seberapa besar sudut vertikal yang dibentuk kepala lampu kilat. Di bagian "leher" lampu kilat (tidak terlihat dalam gambar) juga terdapat indikator sudut
swivel.
*
Panel LCD : pada lampu kilat mutakhir, terdapat layar (panel) LCD yang menunjukkan indikasi-indikasi jarak, ISO yang digunakan kompensasi pencahayaan, dan sebagainya.
*
Tombol power : untuk menyalakan atau mematikan lampu kilat.
*
Ready Light : lampu indikator yang akan menyala bila lampu kilat sudah siap digunakan.
*
Kunci Hotshoe : kunci peneguh (ulir, tuas atau tombol) untuk mencegah lampu kilat terlepas secara tidak sengaja.
*
Tombol-tombol pengaturan : tombol-tombol, seperti pengatur
zooming head dan kompensasi pencahayaan.
*
Tombol test : untuk menguji nyala lampu kilat. Dalam mode TTL atau manual tenaga penuh (full power) bila tombol ini ditekan maka lampu kilat akan mengeluarkan seluruh tenaga pancarannya.
*
Tombol mode lampu kilat : mengatur mode kerja lampu kilat (mode manual, auto/semi auto, TTL, dan sebagainya).
E. Teknik-teknik dasar1. Direct flash (dengan kecepatan sinkron kilat pada kamera)Teknik penggunaan lampu kilat paling dasar. Untuk pengguna lampu kilat manual, penguasaan akan teori Guide Number (GN) adalah esensial untuk membuat foto dengan pencahayaan lampu kilat yang tepat.
a. ManualBagilah GN lampu kilat yang dipakai dengan jarak ke objek untuk menemukan angka diafragma. Jangan lupa untuk menyesuaikan diafragma bila memakai ISO selain ISO 100 (kecilkan bukaan diafragma 1 stop untuk setiap kelipatan ISO 100 - ISO standar GN - dan besarkan 1 stop untuk ISO 50, 2 stop untuk 25, dan seterusnya).
b. Auto/semi autoSetel diafragma yang dianjurkan pada tabel (yang biasanya terletak di punggung lampu kilat) pada ISO yang dipakai, kemudian jagalah jarak dengan objek (di dalam jarak minimum dan maksimum - juga pada tabel). Sekedar anjuran : jangan lebih dari 3 meter sebagaimana yang telah diterangkan di atas.
c. TTLSimpelnya, tinggal tekan tombol pelepas rana. Intensitas cahaya yang dikeluarkan lampu kilat akan menyesuaikan otomatis dengan ISO dan diafragma yang dipakai.
2. Fill in flash"Any light directed on the subject from a lamp or reflector to illuminate shadows cast by the principal light on the subject. Without some such form of shadow illumination, those parts of the subject not lighted by the principal light would appear in the finished photograph as dense black areas with little detail. " (The Focal Encyclopedia of Photography - Volume 1, Focal Press, Londo 1978)
Teknik untuk menggunakan lampu kilat langsung (direct flash) sebagai cahaya pengisi bayangan. Biasanya digunakan dalam pemotretan outdoor (bila cahaya alam yang tersedia cukup dominan). Perlu diketahui bahwa
fill in flash hanya efektif dalam jarak dekat (di bawah lima meter) karena sekuat apa pun lampu kilatnya, ia masih akan kesulitan bersaing dengan cahaya alam (matahari).
3. Slow syncLengkapnya:
Slow Synchronization. Atau dikenal juga sebagai sinkron lambat (dengan kecepatan rana rendah - dibawah 1/30 detik). Mungkin dapat dikatakan bahwa ini adalah teknik
fill in bila cahaya sekitar (ambient lighting) sangat rendah/redup. Seperti pemotretan dengan latar belakang suasana kota di waktu malam. Atau dalam pemotretan panggung, bila pemotretan dilakukan tanpa menggunakan sinkron lambat, latar belakang (penonton yang berdesakan) tidak akan terekam dalam film (gelap). Namun, dengan memberikan waktu lebih lama untuk film agar tercahayai (dengan kecepatan rana rendah), detail di bagian latar lebih jelas terlihat, bercampur dengan blur gerakan-gerakan cepat (kombinasi antara cahaya lampu kilat yang menghentikan gerakan dan efek kecepatan rana rendah). Inti penjelasan ini adalah mencari pencahayaan latar belakang terlebih dahulu sebelum memotret dengan lampu kilat. Tidak jaran, penggunaan tripod menjadi suatu keharusan.
4. Bounce flashBounce flash (lampu kilat pantul) adalah teknik pencahayaan lampu kilat tidak langsung
(indirect flash) untuk mendapatkan hasil cahaya yang lunak, menyebar/merata, dan natural. Singkatnya, teknik ini dilakukan dengan mengarahkan kepala lampu kilat ke atas langit-langit (atau ke samping pada dinding) untuk memantulkan cahaya lampu kilat menuju objek. Teknik ini sangat umum digunakan dalam pemotretan di dalam ruangan, karena menghasilkan kualitas cahaya yang kurang-lebih sama dengan yang dilihat oleh mata manusia (yang terbiasa dengan arah datang cahaya dari atas). Tetapi, untuk menerapkan teknik ini, anda sebaiknya mempunyai lampu kilat dengan bagian kepala yang dapat diputar (tilt, swivel atau kedua2nya lebih baik), langi-langit / dinding (atau papan putih, karton, styrofoam, dan sebagainya) sebagai bidang pantul dan lensa dengan diafragma maximum yang cukup besar / ISO yang cukup tinggi.
Namun, teknik ini juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya adalah bidang pantul yang dipakai tidak dapat berada terlalu jauh dari posisi objek. Tambahan lagi, warna bidang pantul akan dapat mempengaruhi warna cahaya yang menimpa objek foto anda (bidang pantul berwarna biru - misalnya - akan memantulkan cahaya kebiru2an pada objek). Selain itu, pemotretan dalam jarak dekat (dengan sudut kepala lampu kilat 90 drajat) akan menghasilkan daerah bayangan di bagian leher dan mata objek yang cukup pekat.hal-hal lain yang tidak kalah penting, di antaranya adalah lebih boros baterai - karena lampu kilat harus bekerja lebih lama dalam memancarkan cahayanya - dan membutuhkan bukaan diafragma yang lebih besar daripada pemotretan secara langsung (2-3 stop atau bahkan lebih).
Lalu, perlu diperhatikan pula bahwa sudut arah pancar cahaya yang diatur dengan seberapa jauhnya kepala lampu kilat mendongak/menoleh akan mempengaruhi arah dan sudut datangnya cahaya ke objek. Bila objek berada cukup dekat (+/- 1m) dari anda dan anda mengangkat kepala lampu kilat sebanyak 45 drajat ke atas, hampir dapat dipastikan bahwa cahaya lampu kilat akan jatuh di belakang objek anda (in this case, sudut bounce sebanyak 90 drajat/tegak lurus ke atas akan menghasilkan cahaya yang jatuh pada objek). Pengetahuan akan salah 1 teori dasar fisika (sudut datang = sudut pantul) akan sangat membantu dalam mengaplikasikan teknik ini dalam memperkirakan di mana cahaya akan jatuh dari bidang pantulnya.
by : Yulian Ardiaynsyah