Ligagame CSO

Main Menu
Hotk
rappelz online
Sudden attack indonesia
Qeon Shadow company
Garena Heroes of Newerth
Teracord Chaos

Banner

Banner

Ligaponsel
May 23, 2012, 07:28:44 PM
Sorry Guest, you are banned from posting or sending personal messages on this forum.
Poll
Question: Teknik apa yang kalian sukai?
Strobist
Makro
Still Life
Landscape
Portrait
Slow Speed
Fast Speed
Candid
Astrophotography
Dll, Sebutkan

Pages: 1 2 3 4 5 [6] 7 8 9 10 ... 44   Go Down
Print
Author Topic: [Dikusi and Sharing] All about Photography  (Read 24032 times)
0 Members and 4 Guests are viewing this topic.
Crescent
Gakuen cho-sensei
Major
********

Respect: +270/-54
Offline Offline

Posts: 2858



« Reply #125 on: January 28, 2010, 11:07:55 PM »

numpang taro yah gan,eheheheh

belajar belajar belajar  Cheesy









btw untuk penjelasan brondong di atas,kebetulan banget tadi sore ane juga lagi coba"in metering itu

ternyata beda banget hasilnya perbandingan dari wide,center ama spot tergantu bro" ngakalin bwd foto objek" tertentu

nih bbrp contoh dari saya

ni dgn metering mode center weighted,AF wide


ni dgn metering mode spot , AF spot


itu foto pertama emang klo di sini ga keliatan detail,tapi klo pic asli di gedein bopeng e bulan keliatan lumayan jelas  Cheesy


ps:akh foto gw kena resize ligagame  Cheesy
« Last Edit: January 28, 2010, 11:14:11 PM by Crescent » Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #126 on: January 30, 2010, 08:41:39 PM »

itu pake 70-200 ya foto bulan nya?
Logged
Crescent
Gakuen cho-sensei
Major
********

Respect: +270/-54
Offline Offline

Posts: 2858



« Reply #127 on: January 30, 2010, 09:07:16 PM »

itu pake 70-200 ya foto bulan nya?
70 300 om  Cheesy
knp om?kekecilan ya bulan na  Cheesy
Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #128 on: January 30, 2010, 09:13:26 PM »

70 300 om  Cheesy
knp om?kekecilan ya bulan na  Cheesy
ngak, bagus kok... hehehe... hampir dapet detil nya.. keren..  ;)6
Logged
G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #129 on: January 31, 2010, 02:27:04 AM »

beberapa foto yang di buat dengan menggunakan lensa kit

lensa kit Nikon 18-135

ISO250 F/11 t.1/160sec


lensa kit Canon 18-55

ISO800 F/3.5 t.1/80sec


lensa kit Canon 18-55

ISO400 F/11 t.1/500sec


lensa kit Olympus 14-45

ISO100 F/5.6 t.1/160sec


lensa kit Olympus 14-45

ISO100 F/13 t.1/125sec


lensa kit Olympus 14-45

ISO100 F/8 t.1/250sec
Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #130 on: January 31, 2010, 03:28:59 PM »

wah yg trakhir, caem tuh..  Cheesy Cheesy Cheesy


btw, gimana ya bikin poto kyk nomor 1.. keren.... komposisinya mantab...

ato emank dari aslinya begitu warna langitnya?

langit senja emank enak buat objek poto..  ;)6
Logged
G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #131 on: February 06, 2010, 07:26:37 PM »

itu pake Nikon
seting default nya nikon itu agak kebiruan
jadi top banget dah kalo kita bisa manfaatin nya
 Too Funny

itu foto di buat sengaja under
sampe 2 stop kalo gak salah inget
under = gelap
otomatis langit jadi lebih terlihat biru

kalo di tambah CPL mungkin bisa lebih sip lagi warna biru nya...


gila nih...
gue kemaren abis pegang-pegang Olympus EP-2
keren tu kamera
kecil kek poket tapi DSLR
jadi pengen...
 LoL
Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #132 on: February 06, 2010, 07:46:05 PM »

CPL, sama ND itu kepanjangan nya apa yah? tau ga ram?
Logged
G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #133 on: February 06, 2010, 10:40:25 PM »

CPL = Circular Polarizing
ND = Neutral Density
Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #134 on: February 06, 2010, 10:42:49 PM »

CPL = Circular Polarizing
ND = Neutral Density
2 filter itu, kasih efek apa aja ram? maklum newbie..  Cheesy

beda ma filter uv ya itu?
Logged
G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #135 on: February 06, 2010, 11:22:13 PM »

beda

CPL bisa di puter-puter
buat menghasilkan efek tertentu
biasa nya...
buat mempertegas "bentuk" awan, menghilangkan pantulan di kaca
sedikit membuat langit jadi biru

ND, tergantung ND berapa
intinya, itu filter bikin metering lu under
kalo gak salah inget ND8 itu under 4 stop

buat yg mau iseng-isengan
lu bisa motret pantai di siang hari bolong pake speed lambat, kalo perlu itungan menit
masalah nya untuk dapetin speed segitu gue gak tau lu harus numpuk berapa banyak filter ND

kalo lu demen motret pemandangan
bisa dibilang filter ND kudu punya, khusus nya jenis Gradual ND
jadi ND nya gradasi
kepake nya, ya itu tadi
lu motret pantai di siang hari bolong, lu bisa bikin langit nya under, jadi hasilnya biru atau awan-awan nya lebih jelas keliatan, tentunya dengan mempertahankan wilayah pantai en laut nya
Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #136 on: February 06, 2010, 11:27:07 PM »

ooow....

emank ND banyak jenis nya yah?
Logged
G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #137 on: February 06, 2010, 11:31:45 PM »

kalo gak salah iya
yg gue inget ada ND4, ND8 trus ada ND apalah itu lupa gue nama nya pokoknya di atas ND8 lah
sama gradual ND

Logged

Crescent
Gakuen cho-sensei
Major
********

Respect: +270/-54
Offline Offline

Posts: 2858



« Reply #138 on: February 09, 2010, 02:21:08 AM »











absen gan,barusan beres ni foto" na @_@!!
sekarang kondisi mata minus 5 watt  Pusing Pusing Pusing Pusing
wwkwkwkwk

yg foto" gundam pake sony alpha 350,lensa sigma 70-300
klo yg rokok luckystrike pake nikon d70s,lensa std
 Smile
« Last Edit: February 09, 2010, 02:29:49 AM by Crescent » Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #139 on: February 09, 2010, 10:15:45 PM »

Fotografi = Kedewasaan





Mungkin Anda pernah merasa kesal karena orang lain tidak menghargai Anda. Atau, barangkali Anda juga sering marah karena orang lain tidak memerhatikan Anda. Sepertinya, saling menghormati, menghargai dan tidak mencibirkan karya orang lain, seolah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk dimiliki dan temui saat ini. Padahal, suka atau tidak, kita hidup saling berinteraksi dengan orang lain.

Saya bukan termasuk pengamat dunia fotografi. Tapi saya mencoba untuk berpendapat dan mengatakan berdasarkan pengalaman yang sudah saya alami selama kurang dari tiga puluh tahun bergelut di dunia fotografi. Sejak pertamakali saya memantapkan diri menggeluti dunia ini, perkembangan fotografi di Indonesia hingga kini sungguh memprihatinkan. Itu terlepas dari fotografer profesional atau non profesional.

Sekarang ini, banyak fotografer kita lebih mengembangkan paradigmanya (baca: pola berpikir atau cara pandang) masing-masing untuk menjalani profesinya melalui lensa kepentingan, ketimbang kegentingannya. Akibatnya, tak ada lagi ruang untuk saling menghormati dan menghargai sesama fotografer.

Meski ada hal tersebut, tapi hanya sebatas dalam satu komunitas saja. Banyak sekali penghargaan kepada fotografer itu diberikan di dalam kelompoknya sendiri. Mereka saling memuji di dalam kelompok dan sangat sempit pola berpikirnya. Bila ada fotografer lain menghasilkan karya bagus di luar kelompoknya, mereka dengan cepat berlomba-lomba untuk mencibirnya dengan nada minus.

Mengubah mindset fotografer
Menilai hasil karya orang lain sungguh mudah. Tapi, benarkah pendapat kita itu? Seorang fotografer bila ingin menilai karya orang lain, seharusnya berpikir dengan rasa terlebih dahulu. Karena seorang fotografer berpikir tanpa didahului dengan rasa, berarti fotografer itu tidak memiliki pendewasaan dalam berpikir. Permasalahannya adalah, benarkah pujian dan menghargai karya sesama fotografer dalam sebuah komunitas itu berangkat dari hati yang tulus?

Menurut pengalaman saya, hal itu hanyalah sebatas topeng belaka. Kelihatannya kumpulan dari fotografer itu kompak dalam community-nya. Tapi dibelakangnya mereka saling bersaing dan membandingkan. Ya, layaknya orang menjual “pompa dragon” yang melakukan praktik bisnis fotografi dengan cara menjatuhkan dan bersifat fisik semata. Baginya, sukses mendapatkan sebanyak-banyaknya materi adalah tujuan utamanya meski harus dengan cara seperti penjual “pompa dragon”. (Dahulu di pasar Senen, Jakarta, sepanjang jalan banyak sekali orang menjual pompa dragon dengan memberi label “paling murah”. Padahal, disamping kiri-kanannya juga menjual pompa dengan merk dan kualitas yang sama)

Tapi apakah dengan cara seperti itu kesuksesan diraih? Melihat kondisi seperti ini saya menilai, dunia fotografi itu dunianya “iri”. Atau kalau boleh saya meminjam istilah Gus Dur, dunia fotografi di Indonesia sama halnya dengan Dunia Taman Kanak-kanak. Padahal, kita itu hidup dalam satu atap rumah yang namanya fotografi. Kita hidup bukan untuk saling bersaing. Tapi kita ada untuk saling melengkapi.

Sebenarnya, semua itu bermuara pada cara pandang, pola pikir dan komitmen rasa fotografer kepada profesinya. Sementara ini, kebanyakan para fotografer kita yang sudah lama menggeluti dunia fotografi, nyaris tidak memiliki kedewasaan dalam pola berpikir. Kebanyakan dari mereka, lagi-lagi menurut pendapat saya, tidak pernah menghargai orang muda dengan karya-karyanya. Bagi mereka, yang muda haruslah menghargai dan menghormati seniornya.

Begitu pun sebaliknya. Menurut saya, yang muda juga tak menghargai para seniornya. Jelaslah terlihat yang ada hanyalah saling mencela, mencibir, beroritentasi pada materi dan itu sudah menjadi sebuah karekter umum. Dan hukum yang berlaku adalah antara senior dan yunior. Justru yang harus dibangun adalah, bagaimana satu sama lain harus bisa saling menghargai dan menghormati tanpa melihat status.

Untuk bisa mengubah cara pandang, pola berpikir yang disebut paradigma, sama halnya seperti kacamata. Paradigma ini sangat mempengaruhi cara kita melihat segala sesuatu dalam hidup kita. Buat saya, dalam fotografi itu terdapat proses pendewasaan. Untuk bisa mencapai hal itu dalam berpikir dan berprilaku, sungguh membutuhkan waktu.

Untuk itulah, saya mendirikan sekolah fotografi. Materi yang kita berikan di sekolah ini tak sekadar teknik belaka. Tapi lebih dari itu misalnya, bagaimana cara mengendalikan hati, pikiran, mengamalkan ilmu, tidak berpikir secara kelompok tetapi lebih blending dan bersifat nasional. Bahkan kalau bisa mengglobal. Itu yang lebih penting.

Melebur dalam rasa dan komitmen profesi

Perubahan mindset tersebut pada hakikatnya merupakan berkah besar yang pada akhirnya bermanifestasikan dalam bentuk pola berpikir dan cara pandang yang lebih positif dalam bersikap dan hidup bermasyarakat.

Lalu, bagaimana cara kita membina hubungan baik dengan orang lain (di luar komunitas) agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan? Nah, mungkin inilah yang harus kita coba latih bagaimana cara menghargai orang lain, komitmen pada profesi dan mengolah rasa sesama fotografer. Kuncinya hanya satu: buat orang lain merasa penting, berharga dan hidup bermasyarakat tanpa membawa predikat sebagai fotografer. Kita harus dikenal semua orang atau masyarakat secara menyeluruh. Mulai dari kepribadian yang baik, attitude, komitmen dan memegang teguh tanggungjawab profesi kita sebagai fotografer.

Mungkin pendapat saya ini sepertinya berlebihan. Tapi sejujurnya yang harus diingat adalah bahwa, kita hidup di negeri timur yang dituntut saling menghargai, ber“tepo seliro” dan bertingkah laku baik. Bila hidup di negeri barat, meski kita punya karya yang bagus tapi memiliki pola berpikir yang sempit dan tingkah laku yang minus, tidak akan dibicarakan oleh orang lain dan tidak terlalu dipersoalkan. Tapi karyanya yang mereka diskusikan.

Disitulah perbedaannya antara kehidupan fotografer di Indonesia dan di luar negeri. Meski saya pernah belajar fotografi di luar negeri dan banyak memberikan makalah seminar fotografi di luar negeri, bukan berarti saya bangga. Justru saya lebih senang berbagi ilmu kepada masyakarat Indonesia, kalau ingin belajar kepada saya soal fotografi. Buat apa saya memajukan negara lain, sedangkan di negeri ini masih membutuhkan pengetahuan fotografi?

Menurut saya, belajar fotografi yang dikaitkan dengan kehidupan, hanya ada di Indonesia. Saya sangat belajar dengan itu. Misalnya: bagaimana cara menghormati dan menghargai orang lain. Kita harus bisa hidup dan diterima ditengah masyarakat, bukan karena profesi kita. Tapi kita dikenal sebagai personal diri yang memiliki pola berpikir dewasa.

Saya masih ingat betul pengalaman menarik tahun 1986 ketika di Bandung bersama almarhum Bapak H. Boediardjo, mantan Menteri Penerangan Republik Indonesia (1968-1973). Saat itu, ada sebuah gathering komunitas fotografer, Bandung yang diprakarsai almarhum. Persoalan utama yang dibahas oleh almarhum adalah: bahwa fotografer itu tidak boleh hidup berkelompok. Atau mengkotak-kotakkan diri bahwa saya fotografer jurnalis, wedding, atau lainnya. Sebaiknya blending dengan komunitas lainnya sehingga satu sama lain bisa saling menghargai. Itulah ide almarhum yang sangat saya ingat.

Dari pengalaman itu saya berusaha untuk “keluar” dan mulai membaur dengan segala macam lapisan masyarakat tanpa membawa identitas saya sebagai fotografer. Saya mulai belajar akan kedewasaan hidup dari fotografi. Berbagi ilmu kepada masyarkat, meski hanya data teknis secara basic. Buat saya, memberikan data teknis bukanlah pembodohan. Akan tetapi dibalik itu yang lebih penting adalah bahwa setiap foto harus memiliki jiwa/soul. Hal itu baru bisa dilakukan kalau kita sudah pada tahap pengolahan rasa. Karena sebetulnya fotografi adalah: bicara cahaya. Dan cahaya itu harus kita coba, kita lihat, dan kita rasakan.

Menjadi diri sendiri
Sekilas tak ada yang luar biasa dari sebuah kaos. Tapi kaos itu menjadi bernilai bila didisain dengan ilustrasi sebuah nama atau foto. Namun masalahnya, dari goresan yang melekat pada kaos itu, memberikan implikasi negatif kepada yang melihatnya. Bukan yang mengenakan kaos tersebut. Inilah kondisi yang seharusnya tak perlu ada. Padahal, tak semua orang yang mengenakan kaos dengan gambar tertentu itu menunjukkan jati diri dari orang yang memakainya.

Menurut saya, pada prinsipnya orang ingin mengenakan kaos berlabel A atau B, bukan sesuatu yang dipersoalkan. Yang mereka pakai bukan kaos untuk kampanye Pemilu. Tapi yang harus digarisbawahi adalah: bahwa yang mengenakan kaos tersebut merasa nyaman dan appreciate terhadap karya yang wajahnya terpasang di kaos yang dikenakannya. Untuk mengenakan kaos tersebut, tentunya mereka harus mengeluarkan kocek dari kantongnya secara suka rela. Jadi, mau pakai oke, tidak juga, it’s oke.

Kembali lagi kepada bagaimana menjadi diri sendiri. Seorang fotografer bila ingin memberikan komentar terhadap karya orang lain, seharusnya berpikir dengan rasa terlebih dahulu. Karena seorang fotografer berpikir tanpa didahului dengan rasa, berarti fotografer itu tidak memiliki pendewasaan dalam berpikir.

Selain itu menurut pandangan saya, yang namanya fotografi adalah, tidak hanya berkaitan dengan profesi saja. Tapi, lebih kepada tanggungjawab yang lebih luas lagi. Dan tidak ada lagi persoalan saling mencibir diantara sesama kelompok profesi. Mengapa? Karena kita satu tujuan untuk mengembangkan dunia fotografi di Indonesia.

Sebaiknya, fotografi itu harus dikembangkan dengan kehidupan. Nah, komitmen itu yang harus kita miliki dan pada akhirnya kita tidak akan memiliki musuh. Meski banyak orang menjelekkan saya, tapi TUHAN tidak tidur. TUHAN itu memberikan rezeki kepada ciptaannya, Tidak kurang dan juga tidak lebih.

Biarkan orang awam yang menilai perilaku dan karya kita. Bukan rekan-rekan seprofesi yang hidup dalam satu lingkungan, menilai karya kita penuh subyektifitas. Suatu ketika, kita akan hidup dalam kondisi sudah tidak berkarya. Dan alangkah manisnya hidup ini bila kita dikenal sebagai orang yang banyak menghasilkan karya yang baik dengan pribadi atau karakter diri yang baik pula.


sumber : www.indonesianphotographer.com
« Last Edit: February 09, 2010, 10:19:18 PM by brondong » Logged
Crescent
Gakuen cho-sensei
Major
********

Respect: +270/-54
Offline Offline

Posts: 2858



« Reply #140 on: February 12, 2010, 01:58:46 AM »


di edit abis"an pake lightroom
maenin hue saturation na ama level


yg ini cman kasi photofilter


2-2nya pake sony alpha 350 kesayngan  Kiss Kiss
lensa biasa la sigma 70 300  Cheesy
gaya moto na jumpalitan 360°  Cheesy Cheesy Pusing
Logged

brondong
The Cigarette
Senator
****************

Respect: +307/-178
Offline Offline

Posts: 22755


« Reply #141 on: February 12, 2010, 03:20:22 PM »

wah, nikon F brapa tuh?
Logged
Crescent
Gakuen cho-sensei
Major
********

Respect: +270/-54
Offline Offline

Posts: 2858



« Reply #142 on: February 13, 2010, 10:37:13 AM »

wah, nikon F brapa tuh?
kurang yakin saya ya om

tapi ane search di google ama wikipedia

katanya seri nikon ini Nikon-ftn-400

kurang jelas dan kurang yakin

tapi kata bokap seri ini khusus krn bisa di ganti di bagian "Nikon FTN with interchangeable photomic TTL metering prism"
nih gambar yg ane dapet dari wikipedia


tar gw poto" lagi biar lengkap part" na dari nikon seri F di rumah tapi nanti kita bahas na di bagian lensa aja ya om,eheheheh
« Last Edit: February 13, 2010, 10:39:34 AM by Crescent » Logged

SorrowAngel
✿ Drown in Sorrow ✿
Moderator Group
Colonel
******

Respect: +679/-32
Offline Offline

Posts: 5986


I am only me, nothing more, nothing less


« Reply #143 on: February 13, 2010, 11:47:48 AM »

ikutan ah, pas bis motret kelinci bbrp hari lalu

mohon masukannya:













semuanya mentahan, ga di edit, cm resize ukuran + save as device (kualitas 80%) pake photoshop
Logged

G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #144 on: February 13, 2010, 11:52:08 AM »

yg putih lucu bener
itu punya lu...?

katanya kalo meliara kelinci lebih dari 1 gak boleh di gabung kandang nya
nanti bisa mati salah satu, ngiri karena kalah kasih sayang  O_oX
Logged

SorrowAngel
✿ Drown in Sorrow ✿
Moderator Group
Colonel
******

Respect: +679/-32
Offline Offline

Posts: 5986


I am only me, nothing more, nothing less


« Reply #145 on: February 13, 2010, 11:58:31 AM »

yg putih lucu bener
itu punya lu...?

katanya kalo meliara kelinci lebih dari 1 gak boleh di gabung kandang nya
nanti bisa mati salah satu, ngiri karena kalah kasih sayang  O_oX

iya punya gw, namanya noel (putih), hazel (coklat)

hmm ini beli nya sih udah dari 1 orang, udah digabungin dari kecil, malah gw kasi temen krn takut stress tar mati

mereka jg kalau bobo nempel terus ber2 molo

sblmnya jg miara sepasang, selalu gabung, kalau hamil atau sakit aja dipisahin soalnya bs brantem induknya kalau digodain ama si cowo kalau pas hamil
Logged

G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #146 on: February 13, 2010, 12:02:13 PM »

gue juga demen kelinci soalnya
pengen peliara 1 lagi yg lucu
kepikiran mau peliara kelinci ras
susah gak ya, haahhahaha
abis kelinci gue yg sekarang udah belagu, galak pula
 LoL


gue harus upgrade komputer nih
gara-gara kamera baru gue, komputer gue jadi lemot berat gini
spek super duper kenceng terkini tapi yang masih realistis harga nya
apaan ya...?
en spek nya apaan aja
percuma juga sih nulis spek, gue gak ngerti, tau nya make doang
 LoL
Logged

SorrowAngel
✿ Drown in Sorrow ✿
Moderator Group
Colonel
******

Respect: +679/-32
Offline Offline

Posts: 5986


I am only me, nothing more, nothing less


« Reply #147 on: February 13, 2010, 12:08:30 PM »

wkwkwk kalau galak serem jg

lagian kalau besar - kecil ga boleh digabungin, tar yg besar mengintimidasi yg kecil Tongue

punya gw anggora itu, pengen awalnya sih fuzzy, cm ini "kecelakaan" gw ga tahan liatnya jadinya gw beli Cheesy

wkkwkw jadi bahas kelincinya bkn potonya Pusing

kalau soal kompie, kok bs ngefek ama kamera o.o

coba tanya2 ke forum digital aja kalau soal spesifikasi
Logged

G36C
Colonel
**********

Respect: +96/-16
Offline Offline

Posts: 4268



« Reply #148 on: February 13, 2010, 12:11:58 PM »

itu dia masalah nya
gue gak ngerti spek komputer

kan hasil foto kita masukin ke komputer buat di proses
kali ini kamera nya super duper gede file nya
kalo pas render pake potosop or lightroom berat banget
Logged

SorrowAngel
✿ Drown in Sorrow ✿
Moderator Group
Colonel
******

Respect: +679/-32
Offline Offline

Posts: 5986


I am only me, nothing more, nothing less


« Reply #149 on: February 13, 2010, 12:19:22 PM »

oh brarti mslhnya di softwarenya

emang kalau pake sotosop (terutama CS3++) butuh spec yg mayan biar enak editingnya

kalau ga ngerti gmn, mending sertakan mau dibuat apa aja (software2 yang dipake)
Logged

Pages: 1 2 3 4 5 [6] 7 8 9 10 ... 44   Go Up
Print
Jump to:  



Â