Ligagame CSO

Main Menu
Hotk
rappelz online
Sudden attack indonesia
Qeon Shadow company
Garena Heroes of Newerth
Teracord Chaos

Banner

Banner

Ligaponsel
May 23, 2012, 07:19:36 PM
Sorry Guest, you are banned from posting or sending personal messages on this forum.
Pages: 1 ... 10 11 12 13 [14]   Go Down
Print
Author Topic: BASILICA of LOVE [Renungan]  (Read 21738 times)
0 Members and 3 Guests are viewing this topic.
La_Guardia
"L'Idee est a l'epreuve des balles, l'Idee vivra toujours"
Corpral
**

Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 88



WWW
« Reply #325 on: May 14, 2009, 08:36:37 AM »

^
^
^

comment dikit

kalo bisa jangan jadi orang spt chan
ngebohongin diri sendiri itu hal yang paling bodoh yang bisa dilakukan manusia

 Smile Smile Smile Smile
maaf tidak ada yg meminta anda menjadi penilai disini , ur not judge in here
saya rasa anda melupakan membaca halaman pertama thread ini :

Quote
Cukup kita membaca dan mengambil makna nya dan disimpan dalam hati.
Gak Perlu menjelaskan makna yg anda ambil karena saya takut mengandung Flame atau hal2 yg buat orang lain sakit hati.
Logged

Desire To Love u is my Destinywww.bestbalinesevilla.com
GaMerZ`FreAkZ
Major
********

Respect: +54/-22
Offline Offline

Posts: 2119


« Reply #326 on: May 14, 2009, 04:04:30 PM »

ups sorry

tapi ada yg comment jg gapapa
kan bukan termasuk flame
kalo mod ngerasa post gw salah didelete gapapa
 Smile Smile
Logged

FB : rul_amethyst@yahoo.com
MSN : rul_amethyst@hotmail.com
RuL-™

Lachesis, Destructor, & Tarantula


Squall Leonhart
° C o E ™ ° - L'Imperatore of NFT
Moderator Group
Ambassador
******

Respect: +2932/-2275
Offline Offline

Posts: 16123


Ti amo FC INTERNAZIONALE


WWW
« Reply #327 on: May 22, 2009, 01:42:03 AM »

Tuhan beri aku waktu 1 jam saja...

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota .

Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.

Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.

Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anak nya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota ...

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.

Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.

Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya..

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.

Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa laluSerrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil.

Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badansosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.

Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerimakabar bahwa ada seorang wanita yang ungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka.

Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.

Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi."

Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikut nya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja".

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ". Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.

Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulansberhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih esadarannya dan turun.

Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu ."

Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kaki nya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan nya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

"Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia....Jadi mama tidak menyia-nyia kan saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

"Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann ya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..."

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja....."

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita
mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan
Logged

• To the wOrLd yOu maybe just One persOn but Out tO One persOn yOu maybe the wOrLd •


❤ Jangan lupa mampir ke Thread Wisata dan Kuliner ❤
marumecloud
so happy
Moderator Group
Major
******

Respect: +112/-23
Offline Offline

Posts: 2655


\ ^_^ /


« Reply #328 on: May 22, 2009, 08:41:44 PM »

PERBEDAAN PERSEPSI

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya

Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :
"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".
"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut".

"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."

"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".

MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda.
Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita... pilihan ada di tangan anda.

'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'
Logged



For Bellato Comet....

post ke 1500
http://www.ligagame.com/forum/index.php/topic,106440.0.html
(13 September 2010)
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #329 on: June 11, 2009, 04:15:28 AM »

Jessica Cox bisa mengemudi mobil, berenang, dan mengetik 25 kata per menit. Ia juga pemegang dua ban hitam *Censored Kwon-Do (dari dua federasi) dan pintar menari. Ia bisa sekolah, lulus kuliah, dan menerbangkan pesawat. Ia mandiri, cantik, berprestasi, dan menjadi orang yang berguna. Jadi, apa yang tidak dimiliki perempuan muda ini? Dua lengan!
Jessica adalah warga negara Amerika Serikat keturunan Filipina. Usianya 25 tahun. Ia tinggal di Tucson, Arizona.



Untuk diketahui, Jessica dilahirkan tanpa lengan. Orangtuanya tentu terkejut dan sedih dengan keadaannya. Namun mereka tidak putus asa. Mereka bisa menerima keadaan itu dan mengajari anak perempuannya hidup mandiri. Kedua kaki Jessica diajari melakukan banyak hal, antara lain untuk menggantikan fungsi kedua lengannya.
Bagaimana dengan Jessica? Awalnya, ia merasa malu, takut, dan tidak percaya diri. Sebab, keadaan fisiknya berbeda dengan orang lain. Untunglah, ia memiliki keluarga, teman-teman, dan guru yang luar biasa. Mereka menerima keadaannya dan mendukungnya. 
"Aku ingat saat pertama kali akan tampil di panggung untuk pertunjukan tari. Aku malu dan khawatir semuanya tidak akan berjalan lancar. Jadi, aku bilang ke guruku, ‘Tolong tempatkan aku di barisan paling belakang'. Guruku berkata, ‘Tidak ada barisan belakang!'" Pertunjukan itu sukses dan Jessica terpacu untuk menjadi seorang penari.



Seorang pilot pesawat tempur yang tergabung dalam aksi amal Wright Flight juga berjasa. Ia menawari Jessica, yang awalnya takut terbang dan ketinggian, untuk belajar menerbangkan pesawat padanya. Awalnya, Jessica menolak. Namun pilot itu terus memaksa dan bilang bahwa Jessica akan menyukai terbang dan berada di atas awan. Akhirnya Jessica menerima tawaran itu dan menganggapnya sebagai salah satu tantangan terbesar dalam hidupnya. Kini Jessica sudah mengantongi lisensi pilot.





Atas semua kesuksesannya yang luar biasa itu, Jessica berkata, "Banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang penyandang cacat. Namun saya tidak pernah mengatakan, ‘Saya tidak bisa'. Jika belum sukses dalam melakukan suatu hal, saya selalu mengatakan, ‘Saya belum berusaha keras!' Saya juga berusaha beradaptasi dengan dunia yang memerlukan dua lengan ini".
Kini, apa target Jessica? "Masih ada banyak hal di daftar keinginan saya. Hmmm... saya ingin bisa mengepang rambut dan memanjat tebing!" Ia juga ingin mengajari banyak hal pada orang-orang yang senasib dengannya. Mereka mungkin merasa kurang percaya diri, namun Jessica selalu menyemangati mereka dengan berkata, "Sayalah bukti bahwa Anda juga bisa melakukan banyak hal!"

Sumber : http://www.andriewongso.com/awartikel-2639-AW_Inspirational_Video-Tidak_Menyerah_Pada_Keterbatasan

Dashyat banget yah, bisa menyikapi hidup seperti ini.



Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #330 on: July 16, 2009, 12:49:40 AM »

Quote from: LordDF;102090150
Prinsip Sang Pedagang Gorengan
Well, mungkin juragan-juragan sudah tahu betapa dunia bisnis sekarang bagaikan hutan rimba, Hukum rimba berlaku bagaikan tak mengenal siapapun, dimanapun, kapanpun. Kadangkala saya berpikir, "this competition make us heartless". Persaingan ini membuat kita kehilangan nurani, logika, dan nalar dalam memahami rasa kemanusiaan.

Namun, ternyata masih ada seseorang yang berhati jernih di persaingan yang ketat dan semakin menggila ini...

Jalan Kaliurang Km 5,6. Di bengkel kecil. Sore baru buka. Dari arah Kaliurang, setelah Kentungan. Gorengan kedua di sebelah kanan jalan. Depan restoran "Sederhana". Sebelahnya ayam apa gitu...?







LETS GET TO THE POINT... Smile

Di Yogyakarta, ada seorang penjual gorengan yang sudah tua. Dia berjualan di depan bengkel tua yang kecil. Setiap sore sekitar jam 4 dia mulai berjualan di sana...

Ketika saya membeli disana, saya menunggu tempe gorengnya matang. Kebetulan tempe gorengnya belum matang. Sambil menunggu gorengan matang, tiba-tiba ada peminta-minta yang datang...

"Bu, gorengannya seribu ya!"

[COLOR="Red"]WTF?#$!
1.000?
[/COLOR]

Lalu ibu itu memberinya tahu isi dan bakwan. ANEHNYA, dia memberinya sebungkus penuh. 1.000 = Sebungkus?? Impossible! Gw aja beli 5.000 baru dapet sebungkus penuh. Setelah orang ntu pergi, langsung saja saya tanyakan.

"Bu, kok banyak sekali sih dikasih?? :confused: "
"Kasihan mas... Smile " , jawab si ibu.

Langsung aja saya cecar lagi...
"Lha, kalo begitu untungnya darimana bu?? "
Jawabannya ternyata...

"Bohong saya kalau saya bilang mendapat untung banyak dari jualan saya. Apalagi seperti barusan. Tapi saya lebih bohong jika saya mengatakan saya tidak bisa membantu orang lain."

Well, saya langsung tertegun...
Jadi inget, kalo ada orang minta-minta, bilangnya "gak da uang"...
Padahal uang seratus ribuan berjejer di dompet.

Sambil tertegun, duduklah saya dengen setia menunggu tempe...
Tiba-tiba, saya disodorkan gorengan lainnya dulu. "Mas, makan dulu mas."
Tentu saja saya menolak, "Nanti saja bu, dirumah saja. Smile"

Jawab si ibu, "Gak papa. Gratis kok, sambil nungguin. Smile"

Kali ini saya gak komen apa-apa. Saya rasa saya makin mengerti maksud sang ibu. Namun, setelah saya menerima tempe goreng saya dan membayarnya, entah kenapa keceplosan, "Emang prinsip hidup ibu apa sih?"

Jawabnya...

"Ibu rasa nggak ada. Bagi ibu, kehidupan adalah prinsip terbaik yang ibu pernah rasakan, jalani, dan ketahui. Kehidupan = prinsip. Kehidupan tanpa prinsip, bukanlah kehidupan."

Well, that's the last answer.

Pulang-pulang, entah kenapa gua jadi melakonlis...
Mikirin ibu itu sambil mau menangis...
Komen terakhir menyatakan, bahwa seseorang kadang hanya sekedar berprinsip...
Padahal menurut ibu itu, prinsip dan kehidupan adalah satu...

Smile Smile
Yah, kata-kata yang gua bold memiliki arti mendalam yang perlu diresapi.
Bukti bahwa masih ada nurani di dunia ini... Smile

Sebenarnya, masih ada kisah lain tentang Si ibu ini...
Tapi nanti sajalah...
Cukup sampai sini dulu... Smile

Silahkan dicermati... Smile

Mohon jangan dibata... Sad
Dan mohon dirate ya... Shocked
Kalo ada cendol, juga gak papa... :Peace:

REPOST = Impossible (Wong pengalaman gua kok, no Copas)





Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #331 on: July 16, 2009, 01:11:08 AM »

still in progress buat buku ke 2 salut buat cerita di atas  ;)6 udah di approve sama penulis nya buat di tulis di buku ke 2 , yg dari ligagame mana nih sepi2 amat
« Last Edit: July 16, 2009, 10:01:17 PM by Angelic_Unleash » Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
La_Guardia
"L'Idee est a l'epreuve des balles, l'Idee vivra toujours"
Corpral
**

Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 88



WWW
« Reply #332 on: September 01, 2009, 01:43:15 AM »

Quote from: belgebelebel;111258247
Gak usah deh mikirin afrika, atau benua yang lain..Liat mereka yang serumpun, serumah, senegara, dengan kita aja gak pernah ngerasa kenyang..


[SIZE="3"]Bayangkan ketika nanti, orang tua kita seperti itu melihat kita yang suka memboroskan uang mereka[/SIZE]



[SIZE="3"]Nak, nanti buka puasa tahan dulu yaa..mama gak punya uang untuk beli nasi..[/SIZE]



[SIZE="3"]semoga tuhan memaafkanku karena menidurkan anakku ditempat ini..[/SIZE]



[SIZE="3"]Sadarkah kalian, apa yang kalian katakan ketika melihat situasi ini? "MENJIJIKAN".. Bayangkan jika kalian yang tak punya rumah dan tertidur di trotoar jalan? Apakah kalian mau DIJIJIKKAN?[/SIZE]



[SIZE="3"]Ketika kita duduk di kursi dan berinternetan siang hari ini sambil menunggu waktu buka tiba, Pernahkah kalian memikirkan nasib keluarga ini?[/SIZE]




Sadarkah kalian, sebenarnya yang bisa menolong, membantu, mengatasi kemiskinan yang ada di Indonesia adalah kalian sendiri!!
bayangkan, Indonesia berpenduduk 270 juta jiwa.. Hitung ummat islam yang sering ke masjid hanya 5 juta jiwa, dan ketika mereka berteraweh, mereka mengamalkan 1000 rupiah saja untuk shadaqoh, berapa yang akan kita hasilkan dalam sekali terawih??
Rp. 5.000.000.000 dalam sehari!!

bayangkan jika 30 hari?

30 x 5000.000.000 = 150.000.000.000!!!!

Itu baru perhitungan waktu Ramadhan, Bayangkan jika hari hari biasa??



Ya Allah, ampunkan, jika perut ini selalu lebih kenyang dari perut mereka..

original post from :
http://www.kaskus.us/private.php?do=showpm&pmid=21706022

Logged

Desire To Love u is my Destinywww.bestbalinesevilla.com
`aRon`BeLophed`
Sergeant
***

Respect: +2/-8
Offline Offline

Posts: 205


Jessica Jung Thinkin oF Me^^MwaghT


« Reply #333 on: September 23, 2009, 04:17:33 PM »

Cobalah kita renungakan sebuah kisah dari sahabatku ini:

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
 original post from http://www.facebook.com/groups.php?ref=sb#/group.php?gid=27701026939

So Bwt kalian smwa yg merasa ada salah dgn Ibu kalian Don`t wait untiL Shes go...Krena seseorang akan merasa Sesuatu ituw berarti Ketika dia sudah kehilangan sesuatu ituw...
Logged

♪ Saramdeureun modu wonhaji deobbarri deomanhee
Oh rock n roll haneun sonyeo do ♪
woE Just at Faith`....

`aRon`BeLophed` >> Bio 98
~aRonImutDuhLucuna~ >>SN 88
=II^PrincE_aR0n^II= >>chamPion 98
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #334 on: December 01, 2009, 03:46:08 AM »

buat yg gak kuat baca jangan baca ,bukan mengekspos cacatnya seseorang tapi perjuangan dan ketabahan hati seseorang lah yg kita cari  ;)6

Quote
Yuliana Wetmore, gadis yang terlahir tanpa tulang wajah sehingga wajahnya tidak berbentuk
Semula saya ragu untuk memposting tulisan ini, karena hal ini seakan mengekspose cacat seseorang yang sebenarnya merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa, namun setelah saya pikir mendalam dari aspek postitif dan saya renungkan lagi, ada banyak hal yang banyak bisa kita ambil hikmah dan belajar dari gadis cikik ini. Sungguh tidak kuat air mataku untuk tidak meneteskan air, mencoba menyelami dan mencoba memposisikan diri dalam kaca kehidupan dirinya, yang masih polos mungil dalam keceriaan dan spontanitas kelucuan sang bocah. Dialah Juliana Wetmore, gadis kecil yang terlahir dengan kondisi tubuh tidak sempurna sebagaimana teman-teman seusianya. Menurut sumber ruanghati.com Juliana lahir pada tahun 2003 dengan kelainan genetika yang langka (Kraniofasial) lebih dikenal dengan sebutan (Sindrom Treacher Collin).





SAAT MASIH BAYI ,....


Yuliana Wetmore, Walaupun kondisi terlahir tidak seperti teman-teman sebayanya, Yuliana tetap optimis dan ceria
[/B]


Gadis yang tidak memiliki wajah secara harfiah dikarenakan dia kehilangan 30-40 persen dari tulang rahang dan tulang wajahnya. Menurut dokter yang menanganinya kasus Yuliana merupakan salah satu kasus yang langka di dunia, sampai saat ini Yuliana sudah menjalani operasi bedah plastik wajah sebanyak 20 kali untuk lebih membantu menyempurnakan wajahnya. Dokter mengerti bahwa sangat sulit bahkan mustahil untuk bisa memberikan semacam face off atau wajah baru bagi Yuliana, namun setidaknya mereka mencoba membantu agar keadaannya bisa lebih baik dari yang sekarang. Agar lebih bisa membawa sang gadis Yuliana lebih memiliki rasa percaya diri untuk berinteraksi dengan sesama. Yuliana merupakan gadis cilik yang memiliki kecerdasan yang lumayan bagus, demikian dikatakan orang tuanya. Gadis ini memiliki potensi yang cukup menggembirakan dari sisi intelektualnya. Tuhan Maha Adil dan Bijaksana.




[SIZE="4"]Dengan melihat kondisi Yuliana masihkah kita tidak merasa bersyukur pada apa yang Tuhan Berikan kepada kita saat ini?
[/SIZE]

Satu hal yang membuat saya menjadi terusik nurani dari Yuliana, yaitu, dengan kondisinya yang demikian gadis ini masih bisa optimis dan ceria, lalu mengapa kita yang diberikan Tuhan kelengkapan badan dan wajah sempurna masih kurang bersyukur. Bukankan Tuhan sudah menciptakan kita terlahir ke dunia ini dengan wujud sesempurna mungkin. Maha Suci Allah, sungguh kita seringkali tidak menyadari dan melupakan kesempurnaan yang Tuhan berikan pada kita. Banyak diantara kita sampai rela untuk mengeluarkan biaya sangat mahal untuk operasi plastik karena kita tidak puas dengan kondisi wajah yang sebenarnya sudah diciptakan Tuhan dengan bagus dan sempurna. Apakah hal itu belum cukup untuk membuat kita mengucap syukur pada-Nya.

Sudahkan Anda mengucap Syukur pada Tuhan hari ini?




Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #335 on: December 05, 2009, 01:33:27 PM »

Psiko tes PT Astra

answer it honestly and ull find what u seek in ur life

Ada sebuah perusahaan besar di Indonesia PT Astra Internasional
yang sedang mencari karyawan.
Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab, yaitu:

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga anda melewati sebuah perhentian Bis satu-satunya didaerah itu. Di perhentian Bis itu Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan Bis :
- Seorang nenek tua yang sekarat,
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya,
- Seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya
Anda temukan.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk dibonceng Anda, siapakah yang akan Anda ajak ? Dan jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu. Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda
pertimbangkan:
* Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah
sekarat. Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalo
dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati
ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan
hidup kedepannya masih panjang.
* Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang
tepat untuk membalas budi kepadanya... Tapi kalo dipikir, kalo
sekedar membalas budi bisa lain waktu khan.... Namun, kita
tidak akan pernah tau kapan kita mendapatkan kesempatan itu
lagi.
* Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka.. Jika
kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu
dia lagi. Dan impian Anda akan kandas selamanya.


Dari sekitar 2000-an orang pelamar hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan itu. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat:

"Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua yang sedang sekarat tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati saya untuk menunggu Bis kembali menolong kami."

Maka sang HRD yg mulai kecewa dgn hasil seleksinya (sebab byk yg gagal dan penjelasannya tidak memuaskan, egois, tidak perduli sesama dsb.) akhirnya lega sekali.. Tugasnya selesai...sudah ditemukannya sang calon karyawan tersebut. Dan diterimanyalah calon karyawan tersebut dan langsung mendapat "kualifikasi smart & brilliant employee, prospectfull career".

Anda tau nasib sang karyawan tadi?....Sekarang dia mantan Menperindag Indonesia. Ya dia......si "Rini ...... Suwandi"...! !!

Terkadang... dengan rela untuk melepaskan sesuatu yang kita miliki, mengakui segala keterbatasan yang kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita untuk suatu yang lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar......dan hmmm....
Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
SuSu_NaGa
Panitia GFG Surabaya
Brig. General
***********

Respect: +71/-231
Offline Offline

Posts: 6231


~.~


« Reply #336 on: December 16, 2009, 12:37:15 AM »

Sebuah fenomena yang sangat mendalam di negeri kita tercinta...
Lebih dari 35Juta orang miskin ada di Indonesia...
dan sekitar 17,5jt orang miskin tersebut adalah orang2 yang sangat2 miskin, dan dikawathirkan anak2 mereka akan menjadi generasi yang terhilang...
Begitu susahnya mencari nafkah di Indonesia tercinta ini...
Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan makanan untuk di makan....

Ini adalah sebuah fenomena yang tragis, seorang suami tega istrinya melacur dan menjual bayinya...
Berita lengkap baca di sini : http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/07/01/1615024/melacur.untuk.hidupi.suami.siri.1

Dan ini adalah seuah fenomena yang tragis sekali...
Entah berapa lagu, syair, kisah dan puisi yang telah tercipta dipersembahkan untuk menghormati seorang ibu. Ibu adalah orang paling berarti di dunia ini. Bahkan ada istilah sekejam-kejamnya ibu harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, apalagi seorang ibu yang bernama manusia.
Tapi di dunia nyata saat ini sungguh tidak dimengerti kalau sampai ada seorang ibu yang tega dan rela untuk menjual anak gadisnya sendiri untuk melayani nafsu lelaki dan sang ayah sepertinya juga mendukung. Sulit diterima dengan akal sehat dan ini sungguh terjadi dalam kehidupan nyata disekitar kita. Ketika ada yang mengingatkan, ia masih bisa dengan lantang mengatakan, ini anak saya sendiri, saya yang melahirkan. Mau saya jadikan apa juga, itu urusan saya, hak saya, buat apa ikut campur?!
Ini yang saya ketahui, mungkin masih ada atau banyak ibu-ibu yang seperti ini di dunia ini. Sungguh tragis dan sulit dimengerti hidup ini. Karena ceritanya bukan hanya itu. Yang lebih bikin miris dan saya tak habis pikir adalah yang dijual itu bukan hanya satu anak gadisnya saja, tapi tiga anak gadisnya . Satu persatu dijual demi untuk memenuhi nafkah keluarga, karena ayah dan ibu mereka tak mau bersusah payah mencari nafkah. Saya tidak tahu bagaimana perasaan anak-anak gadis itu, mungkin pertama kali terpaksa karena dipaksa orangtua, tapi setelah itu menikmati saja, merasakan begitu gampang mendapatkan duit. Karena saya lihat mereka enjoy-enjoy saja seakan tiada beban. Entahlah kalau dalam hatinya, jangan-jangan sedang mengutuki ibunya dan menjerit pilu. Setelah yang pertama menikah, sekarang tinggal berdua masih menjalani, setiap hari menunggu panggilan. Sang ibu yang mencarikan langganan. Para pria tak sungkan datang menjemput tanpa perlu merasa malu.
Saya tak tahu bagaimana ceritanya sampai seorang ibu dan ayahnya yang bernama manusia itu tega melakukan hal ini? Kemanakah nurani mereka perginya? Pikiran apa yang telah merasuki mereka?
Dimana tanggungjawabnya sebagai orangtua adalah menjaga dan mendidik anak - anak mereka agar punya masa depan dan berguna kelak dalam hidupnya. Tapi sejak dalam usia remaja masa depannya telah dihancurkan dan tinggal menatap masa depan dengan linangan air mata. Mungkin kelihatan dari luar mereka biasa saja, tapi bagaimana keadaan hatinya yang paling dalam? Mungkin sedang menjerit dan menangis meratapi nasibnya yang ketika baru menginjak masa remaja, sudah harus melayani para lelaki hidung belang. Apakah tiada jalan lain lagi untuk mencari nafkah bagi kehidupannya, selain harus menjual keperawanan anak-anaknya tanpa harus merasa bersalah? Jadi istilah kasih ibu sepanjang masa , hanya memberi, tak harap kembali tak berlaku lagi? Karena si ibu merasakan selama ini telah banyak berkorban untuk menghidupi anak-anaknya, wajarlah kalau sekarang anak-anaknya yang membalas budi untuk mereka. Tetapi kenapa harus menjual diri dan mengorbankan masa depan mereka?
Pembelajaran apa yang aku dapatkan dari peristiwa hidup ini selain merasa kasihan, keprihatinan dan berdoa? Kalau mengingatkan pun sudah tak mempan juga?
Tetaplah berdoa semoga dibukakan hatinya. . . dan jangan ada lagi ibu -ibu seperti ini lagi didunia.

Saya kutip beritanya dari : http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/05/keperawanan-itu-dijual-ibunya-sendiri/

Berikut ini adalah sebuah kenyataan yang gila...di mana para penjahat semakin berani dan tidak segan2 untuk membunuh korbannya...


Memang segala sesuatunya semakin sulit...
Maukah kita mebantu saudara2 kita yang memerlukan bantuan?
Dan apakah kita dapat memikirkan segala kesulitan yang kita alami dengan kepala dingin?
Apabila kita semua berpikir dengan kepala dingin, dan tidak memutuskan untuk mengambil jalan pintas, apakah hal2 seperti di atas perlu terjadi?
Logged

Quote From : Daniel Gori (Teman SMAku)
Wong tuoku ngajari hormat karo wong seng layak dihormati. Lek wong tuone sampeyan ngajari ngono. pas sampeyan tuwek sampeyan ga iso hormat karo wong enom...
Squall Leonhart
° C o E ™ ° - L'Imperatore of NFT
Moderator Group
Ambassador
******

Respect: +2932/-2275
Offline Offline

Posts: 16123


Ti amo FC INTERNAZIONALE


WWW
« Reply #337 on: December 16, 2009, 11:43:45 PM »

Are You Happy with your Life...HuhhhhHuhhhh Are You Enjoy your Life HuhhhhHuhhhh

Are You Desperate with your Life HuhhhhHuhhhh Are you Confused with Your Life Huhhhh??

HERE'S SOME ADVICE :

FIVE SIMPLE RULES TO BE HAPPY.

Lima peraturan sederhana untuk hidup bahagia.

Remember the five simple rules to be happy:

Ingatlah lima peraturan sederhana ini untuk hidup bahagia.



1. Free your heart from hated / Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Free your mind from worries / Bebaskan pikiranmu dari kesusahan.

3. Live simply / Hiduplah secara sederhana.

4. Give more / Berilah lebih.

5. Expect less / Kurangilah harapan.



No one can go back and make a brand new start.

Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai baru dari awal.



Anyone can start from now and make a brand new ending.

Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru.



God didn't promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day,comfort for the tears, and light for the way.

Tuhan tidak menjanjikan hari2 tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.



Disappointments are like road humps, they slow you down a bit but you enjoy the sm ooth road afterwards.

Kekecewaan bagai "polisi tidur", ini akan memperlambatmu sedikit tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata.



Don't stay on the humps too long. Move on!

Jangan tinggal terlalu lama saat ada "polisi tidur". Berjalanlah terus !



When you fe el down because you didn't get what you want, just sit tight and be happy, because God is thinking of something better to give you.

Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki,terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk dirimu.



When something happens to you, good or bad, consider what it means ....

Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya..



There's a purpose to life's events, to teach you how to laugh more or not to cry too hard.

Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.



You can't make someone love you, all you can do is be someone who can be loved, the rest is up to the person to realise your worth.

Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.



The measure of love is when you love without measure.

Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas.



In life there are very rare chances that you'll meet the person you love and loves you in return.

Dalam kehidupan jarang akan kautemui seseorang yang kaucintai dan orang itu mencintaimu juga.



So once you have it don't ever let go, the chance might never come your way again.

Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan, ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.



It's better to lose your pride to the one you love, than to lose the one you love because of pride.

Lebih baik kehilangan harga dirimu kepada orang yang mencintaimu,daripada kehilangan orang yang kaucintai karena harga dirimu.



We spend too much time looking for the right person to love or finding fault with those we already love,

when instead we should be perfecting the love we give.

Kita terlalu mem-buang2 waktu untuk men-cari2 orang yang sesuai untuk dicintai atau melihat kesalahan2 pada orang yang telah kita cintai, dari pada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita berikan.



When you truly care for someone,

you don't look for faults,

you don't look for answers,

you don't look for mistakes.

Jika kau sungguh2 peduli pada seseorang,

janganlah kau men-cari2kekurangan2nya ,

kau jangan men-cari2 alasan,

kau jangan men-cari2 kesalahan2nya.



Instead,

you fight the mistakes,

you accept the faults,

and you overlook the excuses.

Malahan,

kau atasi kesalahan2 itu,

kau terima kekurangan2 itu

dan jangan kau hiraukan alasan2 itu.



Never abandon an old friend you will never find one who can take his place

Jangan pernah meninggalkan rekan lama. Kau tidak akan pernah men-dapat penggantinya.



Friendship is like wine, it gets better as it grows older.

Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan tambah baik


(maaf kalau repost, cuman pengen share aja)
Logged

• To the wOrLd yOu maybe just One persOn but Out tO One persOn yOu maybe the wOrLd •


❤ Jangan lupa mampir ke Thread Wisata dan Kuliner ❤
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #338 on: December 21, 2009, 02:21:32 AM »

Aku tidak pernah berpikir kalau hidupku masih bisa bernafas setelah kecelakaan tabrakan mobil yang membuatku koma selama 1 bulan lamanya. Istriku Angel berkata padaku, bahwa Tuhan masih sangat mencintaiku sehingga ia memberikan aku satu kehidupan baru dalam hidupku. Selama proses pemulihan aku hanya bisa duduk terbaring di kursi roda untuk melakukan aktifitas, sebagai anak tunggal satu-satunya dalam keluargaku, ayah dan ibu sangat mencintaiku.

Hidupku terlahir dengan kekayaan berlimpah, istriku cantik dan sejak kecil aku terbiasa dimanjakan sebagai anak orang kaya. Aku bersekolah di Australia saat lulus dari SMA dari Jakarta, menjadi orang kaya tidak membuatku dapat memiliki sahabat karena sifatku yang pendiam terlebih kata ibu sejak kecil aku mempunyai jantung yang lemah. Tidak heran mereka selalu mencemaskan keadaanku yang tidak pernah aku pikirkan, lucunya aku baru tau jantungku membusuk saat kecelakaan itu terjadi.

Aku duduk di teras rumahku yang menghadap ke laut Jawa dan memilih tempat itu sebagai masa penyembuhan dan rehabitasiku. Istriku sedang membuatkan aku segelas susu dan aku tanpa sengaja melihat sebuah buku novel tergeletak di meja teras, mungkin saja istriku baru membacanya dan menaruhnya disana. Aku membuka lembaran itu dan terselip sebuah foto antara aku, istri dan seorang sahabat yang telah lupa dalam ingatanku bernama Fernando.

Bukankah ini foto saat kami berada di Australia, Fernando berkerja sebagai pelayan kafe dan saat itu aku, istriku dan dia berfoto bersama saat berdiskusi. Istriku datang dan menghampiriku sembari meletakkan segelas susu di meja.

“ Mengapa foto ini ada disini sayang?” tanyaku
Istriku terkejut, mungkin karena ia takut gambar itu membuat aku teringat masa lalu.
“ Maaf aku tidak sengaja menemukan novel itu dari kiriman pos seseorang dan ketika membukanya terdapat foto kita semasa kuliah.”
Aku terdiam, istriku langsung seperti salah tingkah.
“ Ngomong-ngomong sekarang dimana Fernando, bukannya terakhir kita masih melihatnya saat bulan madu di Perth?”

Istriku terdiam, suara telepon tiba-tiba berdering dan dia langsung meminta izin untuk mengangkat. Aku hanya bisa mengenang foto kenangan itu, Fernando adalah sahabat pertama yang menjadi temanku saat aku nyaris mati karena kedinginan terserang hujan deras, ia bukan laki-laki beruntung seperti hidupku. Bahkan untuk menyambung hidupnya ia harus bekerja sebagai pelayan restoran, aku berterima kasih padanya karena berkatnya aku masih bisa hidup sampai detik ini.

Berkatnya juga aku bisa mengenal istri yang kucintai saat ini, persahabatan kami baik-baik saja hingga sebuah tragedi terjadi dalam hidup kami. Suatu ketika semua orang mempergunjing aku di kampus dan mengatakan aku seorang gay karena terlalu dekat dengan Fernando. Terang saja aku marah, kami normal dan dekat karena dialah satu-satunya sahabatku di Australia dan aku bahkan rela menghajar orang-orang yag menjelek-jelekkan sahabatku itu. Tapi pertanyaan it u terus menghantuiku, sebagian dari sahabatku memang pernah berbisik kalau sahabatku itu gay tapi Angel tidak pernah mengatakan begitu walaupun mereka sudah mengenal sebelum hadirnya aku.

Tapi hidup memang pahit, di mataku sendiri Fernando berciuman dengan sesama pasangan gay-nya. Aku hancur dan malu memiliki sahabat seperti dia, ada yang aneh ketika melihatnya berbuat demikian. Sidney memang kota bebas bagi gay, tapi tidak buat aku. Aku melupakan semua kebaikan yang pernah dia berikan padaku, jijik rasanya aku melihat monster itu hidup bersamaku selama ini. Aku tau Fernando melihatku memergokinnya saat itu, ia panik dan meminta maaf karena selama ini tidak jujur dengan statusnya, hal terakhir yang kudengar dari mulutnya adalah

“ Aku mungkin gay, tapi aku bukanlah monster yang ada disampingmu selama ini. Bagiku siapapun boleh menganggap aku manusia hina tapi janganlah kau sahabatku, karena kaulah satu-satunya sahabat dalam hidupku yang yatim piatu tanpa siapapun”

Aku tidak tergoda oleh kalimat itu walau terasa menyedihkan, kutinggalkan Sidney saat itu juga dengan membawa Angel pindah ke Perth. Aku tau Angel ingin menyarankan aku untuk menerima kenyataan tapi hatiku membeku dan tidak sudi memiliki sahabat gay dan menjijikkan seperti dia. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya seperti yang aku katakan sebelumnya kami kembali bertemu saat aku sedang berbulan madu bersama istriku tepatnya 3 tahun setelah kami berpacaran di sebuah restoran mewah ketika Fernando mulai menjadi koki di restorant itu.

Aku sadar ini saat terakhir aku berjumpa dengannya, karena aku akan kembali ke Jakarta. Saran istriku padaku untuk setidaknya mengucapkan kata perpisahan dengannya aku turuti, aku pun mengundangnya minum kopi bersama sebagai sahabat lama walaupun di hatiku tidak pernah mau memaafkan statusnya sebagai gay. Kami bicara seadanya tentang hidup kami , dia mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Dan kami pun berpisah, ketika pulang aku tidak mengingat semuanya selain sebuah mobil menabrakku dan aku pun koma hingga tidak sempat mengingat Fernando.

Istriku kembali, dengan wajah sedikit senduh dia duduk di sampingku.

“ Sayang, sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang foto itu”
“ Tidak ada selain pertanyaan ke mana Fernando saat ini?”

Istriku menunduk sambil berkata “ Dia ada disini..”. Aku menjadi bingung,
“ Maksudmu apa?”
“ Fernando tidak akan pernah ada di dunia ini lagi, tapi dia akan selalu ada di sini, tepatnya di jantung yang kamu miliki saat ini.”
“ Aku tidak mengerti maksudmu?”

Istriku menangis sambil bercerita, di saat-saat terakhir usai kecelakaan terjadi. Orang yang membawaku ke rumah sakit adalah Fernando, Dokter mengatakan bahwa jantungku sudah tidak berfungsi. Aku hanya memiliki waktu sedikit untuk tetap hidup dan dokter menyarankan Fernando mencari donor jantung. Istriku Angel begitu terkejut dengan berita kecelakaan itu, ia menangis di samping Fernando. Tidak mungkin mencari jantung yang tepat dalam waktu saat kondisi kritis seperti ini.

" Fernando, sebentar lagi Anthony akan menjadi seorang ayah, aku tidak lagi sanggup hidup bila bayi dalam kandunganku ini tidak memiliki ayah.." ujar Angel.

Fernando tersenyum dan berkata

“ Percayalah kalau Anthony ( namaku) akan tetap hidup di samping kamu untuk selamanya”

Itulah kata-kata terakhir dari istriku, Fernando mendekat pada dokter dan berkata ia mau mendonorkan jantungnya padaku. Dokter terang saja menolak keinginan Fernado karena tidak ada hukum yang mengizinkan orang sehat untuk berbuat demikian. Fernando tidak putus asa, baginya hidupnya yang sebatang kara tidak akan memiliki masa depan terlebih tak akan ada seorang pun yang peduli padanya. Ia dengar kalau hanya orang yang sekarat boleh mendonorkan dirinya, sahabatku melakukan tindakan bodoh.

Sesaat sebelum kematiannya ia menelepon Dokter dan mengatakan bahwa seseorang donor yang bersedia menyumbangkan jantungnya. Dokter bertanya siapa orang itu, dengan tersenyum dibalik telepon Fernando berkata “ Saya menunggu anda di belakang rumah sakit, jantung ini hanya bisa bertahan selama beberapa saat, saya mohon dokter kemarilah dalam waktu 10 menit.” Dengan berani Fernando menabrakkan dirinya pada sebuah truk yang lewat, dia mengorbankan dirinya untuk menjadi donor dalam keadan sekarat.

Angel menerima kabar itu usai operasiku berjalan lancar saat itu ia hendak bertanya sosok donor yang menyumbangkan jantungnya dan berpikir untuk mengucapkan terima kasih pada keluarga, dokter mengatakan sang donor adalah Fernando. Angel tidak mungkin mengatakan kejadian itu padaku, ia hanya ingin menunggu saat yang tepat dan saat inilah aku tau. Aku hanya bisa menangis di atas makam sahabatku. Entah bertapa bodohnya aku tidak pernah mengerti arti sahabat dalam kehidupanku. Kalau saja saat itu aku memaafkan apa yang terjadi mungkin tidak akan ada penyesalan dalam hidupku.

“ Dia sahabat yang tidak hanya menolong hidupku satu kali tapi dua kali, bukanlah dia yang seharusnya meminta maaf tapi akulah yang meminta maaf tidak pernah mengerti bertapa dia adalah sahabat sejati dalam hidupku, aku terlalu egois mengatakan bahwa dia gay dan dia adalah petaka dalam hidupku. Mungkin kata dia terakhir padaku tidak akan pernah terlupa dalam ingatanku, ia memang gay tapi ia bukanlah monster yang akan mencintai sahabatnya sendiri.”

Aku tidak akan pernah melupakan hal ini, walaupun hidupku berjalan dengan waktu, semoga kisahku tidak membuat kalian menjadi seperti aku. Ingatlah sahabat itu hadir dalam hidup kita tanpa pernah kita sadari bahwa sejatinya tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini. anakku terlahir beberapa bulan kemudian dan untuk mengenang sahabatku, keberikan nama Fernando padanya.

Gay, lesbi , pria buta, wanita bisu mereka adalah manusia yang memiliki hati untuk mencintai dan kasih dalam persahabatan. Setidaknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat.

True story ini pernah dimuat di Kompas.

Dan bagian dalam sejarah kisah ini
terdapat dalam novel ke 3
Agnes Davonar berjudul sama

“ SAHABAT.”
Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #339 on: January 05, 2010, 12:51:11 AM »

Quote
bravo , sungguh saya benar2 selalu terpesona dengan tulisan bu yansi selalu yang begitu menggambarkan cinta seorang wanita dan kasih sayangnya


Sekedar sharing, saya barusan mendapat kabar dari kakak saya bahwa setelah menikah selama 10 tahun dan belum dikarunia anak, akhirnya kemarin pasangan suami istri ini telah mengangkat bayi wanita mungil dan montok berusia 5 hari. Segenap keluarga besar, baik keluarga kandung maupun keluarga besan sangat bersukacita, akhirnya mereka berdua berani mengambil anak angkat setelah 10 tahun mengalami sunyinya rumah tangga mereka dari celotehan suara anak.
Mereka sebenarnya sudah mencoba program bayi tabung yang begitu mahal, puluhan juta, tapi gagal. Sudah berobat ke sana-kemari hasilnya nihil.
Bahkan mereka telah berulang kali meminta anak saya (saya mempunyai 4 Putri) tapi karena saya dan suami merasa tidak bisa pisah dengan anak-anak kami maka walaupun itu kakak kandung, tapi saya dan suami tidak rela berpisah dengan buah hati kami, walau mereka semua perempuan.
 
Anak adalah anugerah tiada taranya, keadaan tidak enak hanya akan berlangsung sebentar ketika kita hamil, merasa perut gendut, susah bergerak, tapi setelah anak dilahirkan semua beban terasa hilang dan berganti rasa syukur. Apalagi ketika si mungil memberi senyum pertama dan mulai berceloteh, bukan main indahnya anugerah seorang anak. Saya telah mempunyai 4 orang anak, tapi tetap merasa sangat menikmati mempunyai anak.
Untuk itulah bagi wanita siapa saja yang mendapat karunia anak, entah hamil di luar nikah atau apapun alasan kehamilan itu, bersyukurlah. Rasa syukur akan menggantikan duka derita kita. Percayalah.

Salam,
Jansi
Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
La_Guardia
"L'Idee est a l'epreuve des balles, l'Idee vivra toujours"
Corpral
**

Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 88



WWW
« Reply #340 on: January 14, 2010, 07:18:47 AM »


Kelompok 99



Jaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja. Raja ini seharusnya puas dengan kehidupannya, dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia miliki. Tapi Raja ini tidak seperti itu. Sang Raja selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah puas dengan kehidupannya. Tentu saja, ia memiliki perhatian semua orang kemana pun ia pergi, menghadiri jamuan makan malam dan pesta yang mewah, tetapi, ia merasa ada sesuatu yang kurang dan ia tidak tahu apa sebabnya.

Suatu hari, sang Raja bangun lebih pagi dari biasanya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar istananya. Sang Raja masuk ke dalam ruang tamunya yang luas dan berhenti ketika ia mendengarkan seseorang bernyanyi dengan riang… dan perhatiannya tertuju kepada salah satu pembantunya. .. yang bersenandung gembira dan wajahnya memancarkan sukacita serta kepuasan. Hal ini menarik perhatian sang Raja dan ia pun memanggil si hamba masuk ke dalam ruangannya.

Pria ini, si hamba, masuk ke dalam ruangan sang Raja seperti yang telah diperintahkan. Lalu sang Raja bertanya mengapa si hamba begitu riang gembira. Kemudian, si hamba menjawab,

“Yang Mulia, diri saya tidaklah lebih dari seorang hamba, namun apa yang saya peroleh cukup untuk menyenangkan istri dan anak-anak saya. Kami tidak memerlukan banyak, sebuah atap di atas kepala kami dan makanan yang hangat untuk mengisi perut kami. Istri dan anak-anak saya adalah sumber inspirasi saya, mereka puas dengan apa yang bisa saya sediakan walaupun sedikit. Saya bersukacita karena mereka bersukacita. “

Mendengar hal tersebut, sang Raja menyuruh si hamba keluar dan kemudian memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Sang Raja berusaha mengkaji perasaan pribadinya dan mengkaitkan dengan kisah yang baru saja didengarnya, berharap dirinya dapat menemukan suatu alasan mengapa ia seharusnya dapat merasa puas dengan apa yang dapat diperoleh dengan sekejap tetapi tidak, sedangkan hambanya hanya memperoleh sedikit harta tetapi memiliki rasa kepuasan yang besar. Dengan penuh perhatian, sang asisten pribadi mendengarkan ucapan sang Raja dan kemudian menarik kesimpulan.

Ujarnya, “Yang Mulia, saya percaya si hamba itu belum menjadi bagian dari kelompok 99.”

“Kelompok 99? Apakah itu?” tanya sang Raja.

Kemudian, sang asisten pribadi menjawab, “Yang Mulia, untuk mengetahui apa itu Kelompok 99, Yang Mulia harus melakukan hal ini…. letakkan 99 koin emas dalam sebuah kantung dan tinggalkan kantung tersebut di depan rumah si hamba, setelah itu Yang Mulia akan mengerti apa itu Kelompok 99.”

Sore harinya, sang Raja mengatur agar si hamba memperoleh kantung yang berisi 99 koin emas di depan rumahnya. Walaupun ada sedikit keraguan muncul, dan sang Raja ingin memberikan 100 koin emas, namun ia menuruti nasihat si asisten pribadi dan tetapi meletakkan 99 koin emas.

Esok harinya, ketika si hamba baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar rumah, matanya melihat sebuah kantung. Bertanya-tanya dalam hatinya, ia membawa kantung itu masuk ke dalam dan membukanya. Ketika melihat begitu banyak koin emas di dalamnya, ia langsung berteriak girang.. Koin emas… begitu banyak! Hampir ia tidak percaya. Kemudian ia memanggil istri dan anak-anaknya keluar memperlihatkan temuannya. Si hamba meletakkan kantung tersebut di atas meja, mengeluarkan seluruh isinya dan mulai menghitung. Hanya 99 koin emas, dan ia pun merasa aneh.. Dihitungnya kembali, terus menerus dan tetap saja, hanya 99 koin emas. Si hamba mulai bertanya-tanya, kemanakah koin yang satu lagi? Tidak mungkin seseorang hanya meninggalkan 99 koin emas. Ia pun mulai menggeledah seluruh rumahnya, mencari koin yang terakhir. Setelah ia merasa letih dan putus asa, ia memutuskan untuk bekerja lebih keras lagi untuk menggantikan 1 koin itu agar jumlahnya genap 100 koin emas.
Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang benar-benar tidak enak, berteriak-teriak kepada istri dan anak-anaknya, tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan malam sebelumnya dengan bekerja keras agar ia mampu membeli 1 koin emas. Si hamba bekerja seperti biasa, tetapi tidak dengan suasana hati yang riang, bersiul-siul seperti biasanya. Dan si hamba pun tidak menyadari bahwa sang Raja memperhatikan dirinya ketika ia melakukan pekerjaan hariannya dengan bersungut-sungut.
Sang Raja bingung melihat sikap si hamba yang berubah begitu drastis, lalu memanggil asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Diceritakan apa yang telah dilihatnya dan si asisten pribadinya tetap mendengarkan dengan penuh perhatian. Sang Raja bertanya, bukankah seharusnya si hamba itu lebih riang karena ia telah memiliki koin emas.

Jawab si asisten,”Ah. . tetapi, Yang Mulia, sekarang hamba itu secara resmi telah masuk ke dalam Kelompok 99.”

Lanjutnya, “Kelompok 99 itu hanyalah sebuah nama yang diberikan kepada orang-orang yang telah memiliki semuanya tetapi tidak pernah merasa puas, dan mereka terus bekerja keras mencoba mencari 1 koin emas yang terakhir agar genap 100 koin emas.

Kita harusnya merasa bersyukur dengan apa yang ada, dan kita bisa hidup dengan sedikit yang kita miliki. Tetapi ketika kita diberikan yang lebih baik dan lebih banyak, kita menghendaki lebih! Tidak menjadi orang yang sama lagi, yang puas dengan apa yang ada, tetapi kita terus menghendaki lebih dan lebih dan memiliki keinginan seperti itu kita membayar harga yang tidak kita pun sadari. Kehilangan waktu tidur, kebahagiaan, dan menyakiti orang-orang yang berada di sekitar kita hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Orang-orang seperti itulah yang tergabung dalam Kelompok 99!”

Mendengar hal itu, sang Raja memutuskan bahwa untuk selanjutnya, ia akan mulai menghargai hal-hal yang kecil dalam hidup.
Logged

Desire To Love u is my Destinywww.bestbalinesevilla.com
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #341 on: February 12, 2010, 07:46:54 PM »

Quote from: pang-pang
Langsung aja ya gan sharingnya
siapa tau bisa bermanfaat bagi yg suka males menuntut ilmu padahal orang berkecukupan.....

ceritanya gini gan..
kemarin siang kamis 11 feb 2010 skitar jam 11an gw janjian ma temen gw di depan kantornya di daerah Gajah Mada Jakpus...
disana gw ga parkir motor dparkiran tapi dpinggir jalan aja secara gw ga akan lama dsana....
pas nunggu temen dpinggir jalan itu gw melihat suatu hal yang bener2 ngebuka mata gw...

biasa aja ya???
cuma pemulung ma anaknya (seumuran SD) yg lagi istirahat...
ga lama si bapak pemulung (kita singkat aja ya jd BP..hahahaha) mengeluarkan sesuatu dari karung plastik yg dia bawa...
dia bilang "nih bapak dapet dari pinggir tempat sampah tadi bekas dibuang orang..kotor tp masih bagus"

ternyata si BP ngeluarin buku belajar gitu gan sama pulpen dan pensil bekas hasil mungut...
dia kasih lah ke si anak tuh buku...
anaknya seneng bukan main...

si anak langsung deh ngerjain tugas2 yg ada di buku itu...
si BP terus merhatiiiiin anaknya...
eh dia keluarin lagi buku dari karungnya....
kali ini si BP yg belajar...

walhasil mereka berdua belajar bareng gan
pas si anak ga ngerti dia tanya ke bapaknya begitu juga sebaliknya...
si BP sampe berpikir keras ngerjain soal2 yg ada..dia sampe gumam2 gitu sambil sesekali ngeliat ke atas..
gw penasaran apa sih yg mereka berdua palajarin..gw intip lah....ternyata!!! itu pelajaran anak SD gan!! yg dsuruh menggambar jam..misal pukul 4.30 tuh jarum pjg dmana pendek dmn (yg pernah SD pasti tau lah)..
dalam hati gw kasian bgt soal begitu aja harus mikir..gmn dkasih integral:hammer:

tapi gw bisa ngambil hikmah dari kejadian yg gw liat tadi...
gw justru salut ma mereka berdua..
mereka orang ga mampu...dapet buku boleh nemu dtong sampah..
tapi waktu pas istirahat mereka pergunain untuk belajar, untuk nambah ilmu...
sementara sebagian dari kita???
udah mampu bayar sekolah mahal2 masiiiiiihhh aja bolos.masiiiiihh aja males
malu ga sih sama pemulung ini??
« Last Edit: February 12, 2010, 07:48:36 PM by Angelic_Unleash » Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
Angelic_Unleash
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Ladies Club
Sergeant Major
******

Respect: +5/-2
Offline Offline

Posts: 449


Humanity without Insanity is just Vanity


WWW
« Reply #342 on: February 12, 2010, 07:57:00 PM »

http://www.facebook.com/group.php?gid=340903085365

please join our group at facebook
Logged

Desire To Love u is my Destiny VIP LC 086 FS: http://www.friendster.com/basilicaoflove
basilicaoflove
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Recruit


Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 5

Back to the place where i Start


WWW
« Reply #343 on: January 02, 2012, 04:12:44 AM »

Mohon maaf setelah sekian lama absent, kami kembali untuk melanjutkan thread, ini dan mohon maaf untuk buku ke 2 sedikit tertunda.

jadi selebih nya akan official di lanjut kan oleh kami
(lupa password id lama) terpaksa bikin id baru

hasil search di beberapa blog dapat lagi sebuah kisah inspiratif,

Terkadang bagi kita uang sejumlah 10 ribu itu sangat lah sedikit, tapi bagi orang lain itu adalah nafkah mereka selama sehari

tribute to http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.



Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
« Last Edit: January 02, 2012, 04:22:30 AM by basilicaoflove » Logged

Right or Wrong, Money or Love, Black or White
basilicaoflove
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Recruit


Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 5

Back to the place where i Start


WWW
« Reply #344 on: February 02, 2012, 12:21:44 AM »

reality of society

Quote
Di sebuah stasiun kereta, di Washington DC. Dingin nya Januari tahun 2007, Seorang pria memainkan nada dari komposer bach yg terkenal menggunakan biola nya. 45 Menit itu adalah waktu teramai selama dia memainkan nya dimana orang hiruk pikuk menuju tempat kerja. Pada menit ke 3 seorang pria setengah baya berhenti dan mendengarkan sebenar lalu bergegas pergi. Semenit kemudian seorang wanita melemparkan recehan tanpa menoleh dan terus berjalan. Tidak lama lagi seseorang berhenti mendengar tapi kembali bergegas karena terlambat kerja. Berikutnya ada seorang ibu dan anak lewat, tapi hanya sang anak yang mencoba berhenti mendengar. Selama 45 menit itu hanya 6 orang yang berhenti, Sebentar. Sekitar 20 orang memberikan uang dan terus berjalan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorakan, tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu kalau pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, maestro musik terkenal yang memainkan biola senilai 3,5 juta dollar.

Untuk menyaksikan penampilan nya minimal harus menghabiskan US$ 100.
Penampilan di stasiun kereta ini adalah bagian dari experiment bersama Washington post,
Bahwa betapa sibuk nya orang sampai dia lupa kalau mereka banyak melewatkan berharga di sekitar nya.
Quote
Kegiatan harian, pekerjaan dan semuanya telah menjadikan kita lupa bahwa banyak hal berharga di sekitar kita yang terlewatkan



A man sat at a metro station in Washington DC and started to play the violin; it was a cold January morning. He played six Bach pieces for about 45 minutes. During that time, since it was rush hour, it was calculated that thousands of people went through the station, most of them on their way to work.

Three minutes went by and a middle aged man noticed there was musician playing. He slowed his pace and stopped for a few seconds and then hurried up to meet his schedule.

A minute later, the violinist received his first dollar tip: a woman threw the money in the till and without stopping continued to walk.

A few minutes later, someone leaned against the wall to listen to him, but the man looked at his watch and started to walk again. Clearly he was late for work.

The one who paid the most attention was a 3 year old boy. His mother tagged him along, hurried but the kid stopped to look at the violinist.

Finally the mother pushed hard and the child continued to walk turning his head all the time. This action was repeated by several other children. All the parents, without exception, forced them to move on.

In the 45 minutes the musician played, only 6 people stopped and stayed for a while. About 20 gave him money but continued to walk their normal pace. He collected $32. When he finished playing and silence took over, no one noticed it. No one applauded, nor was there any recognition.

No one knew this but the violinist was Joshua Bell, one of the top musicians in the world. He played one of the most intricate pieces ever written,with a violin worth 3.5 million dollars.

Two days before his playing in the subway, Joshua Bell sold out at a theater in Boston and the seats average $100.

This is a real story. Joshua Bell playing incognito in the metro station

was organized by the Washington Post as part of a social experiment about perception, taste and priorities of people. The outlines were: in a commonplace environment at an inappropriate hour: Do we perceive beauty?

Do we stop to appreciate it? Do we recognize the talent in an unexpected context?

One of the possible conclusions from this experience could be: If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world playing the best music ever written, how many other things are we missing?


« Last Edit: February 02, 2012, 12:36:15 AM by basilicaoflove » Logged

Right or Wrong, Money or Love, Black or White
basilicaoflove
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Recruit


Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 5

Back to the place where i Start


WWW
« Reply #345 on: February 09, 2012, 06:33:01 AM »

Result of reading many good quote :

when someone tell you that you can not do something, that is mean he/she is lying because no one know yourself better than you. Life is to short to life in path of other people word. Be yourself and you will achieve something that other can not
Logged

Right or Wrong, Money or Love, Black or White
basilicaoflove
L'Idée est à l'épreuve des balles, l'Idée vivra toujours
Recruit


Respect: +0/-0
Offline Offline

Posts: 5

Back to the place where i Start


WWW
« Reply #346 on: March 02, 2012, 11:25:27 AM »

cerita fiktif yg menyentuh untuk kondisi hukum di indonesia yg sangat memprihatinkan

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.

versi inggris nya : http://www.snopes.com/glurge/laguardia.asp
Logged

Right or Wrong, Money or Love, Black or White
Pages: 1 ... 10 11 12 13 [14]   Go Up
Print
Jump to:  



Â