Setelah sekian lama engga upload... (pardon me guys^^)
Modder kita kali ini bernama Adri, seorang mahasiswa perguruan negri swasta di bilangan Serpong.
Adri mengakui kalau ia belum mendalami overclocking, karena biasanya game yang ia mainkan lebih mengutamakan banyaknya tombol yang dipencet, bukan berapa fps yang bisa digelontorkan . Adri menyukai gaya dan faktor eksternal terlebih dahulu sebelum performance dalam usaha mengoptimalkan PC nya.
gaya bersama obeng...

Sepak terjang Adri bersama Razer dimulai dari sebuah mousepad. Mousepad pertamanya adalah Razer Destructor, sang modder awalnya cukup puas namun dia menyadari kalau tekstur mousepad Destructor membuat bahan teflon kaki-kaki mousnya cepat habis, maka iapun mencari penggantinya. Setelah riset, pilihan jatuh ke Razer Megasoma kaerna bahan yang lebih empuk dan tidak membuat bagian bawah mouse terkikis. Menggeser mouse saat gaming pun menjadi halus rasanya. Redaksi PC Gamer pun mengakui kehandalan Megasoma karena kami juga menggunakannya pada gaming rig kami.
Tatakan mouse yang sudah oke sebaiknya ditunggangi oleh mouse yang oke juga. Pilihan Adri jatuh kepada Razer Naga karena jumlah tombolnya yang ramai. Tombol yang banyak berguna saat bermain game RPG, RTS atau game bergenre action adventure kesukaan sang modder. Adri juga menykai posisi telapak tangan pada Naga, nyaman dan mudah meraih semua tombol yang tersedia pada mouse.
Setelah mouse bers, perhatian Adri beralih pada keyboard. Keyboard gaming pertamanya adalah Logitech G15 V1 yang terkenal. Sudah pasti cukup dan sesuai untuk gaming, namun mengingat banyaknya tombol ekstra pada Naga, maka kegunaan dari keyboard yang terkenal akan jumlah tombol mcronya itu berkurang. lus barang tersebut sudah berumur, keyboard pun diganti dengan Razer Lycosa mirror. Adri jatuh hati pada keyboard Lycosa karena bentuknya yang ganteng, serta tutsnya yang enak dipakai mengetik. Namun harus siap sedia kain lap untuk membersihkannya karena agak cepat kotor. ]
Piranti penampil gambar yang dimiliki Adri adalah standar bawaan dari Lenovo sebesar 20inci. Sejauh ini tak ada keluhan berarti, lagipula bentuknya juga cukup keren dalam pandangan sang pemilik.

Siapa bilang casing standar bawaan pabrikan tidak keren? Lihat saja fitur yang diusung casing Lenovo standar ini, terdapat bukaan ventilasi pada bagian kanan dan kiri, pegangan untuk transport di bagian atas, warna 2 tone ditambash LED 3 warna dengan aksen yang cocok dengan motif stiker Razer. Mungil memang tapi bagian dalamny abisa dimodif sesuka pengguna (asalkan tidak keberatan hilang garansi yang menjadi 'resiko bawaan" PC yang sudah dirakit sebelumnya). Heatsink fan yang dipakai dalam PC ini juga non konvensional, serta power suppy abwaannya bermerek unik, Huntkey. Hmmm... jarang terdengar..


Sebagus-bagusnya gambar yang ditampilkan PC bila Anda tidak memiliki sound system yan gprima, maka rasanya serperti pakai baju tapi tidak pakai celana. Walau sejuk, tapi memalkukan. Adri tidak ingin seperti itu, maka ia memanfaatkan Razer Megalodon yang dilengkapi Virtual Surround Sound 7 saluran. Sebelumnya ia memakai Rzer piranha, namun karena kurang puas dengan hanya 2 saluran, maka Adri mengupgradenya menjadi Megalodon. Sound system yang mantap selain menambash asyik bermain game biasanya juga membuat Adri bisa mendengar musik atau menonton film keras-keras tanpa mengganggu penghuni kos lainnya. Di masa depan Adri berencana mengganti Radeon 4670nya dengan 5750 untuk menghilangkan beberapa lag ringan dalam game Dragon Age yang sekarang dimainkan. Sekarang fokus Adri tertuju untuk mengganti PSU baru dengan merek yang lebih bermutu.
